LAMPUNG, INFODESANEWS — Di sebuah desa kecil, S menapaki hidup dari titik yang serba terbatas. Sejak muda, ia bekerja tanpa mengenal lelah: menjadi buruh tani di musim panen, kuli bangunan di kota, hingga pekerja serabutan demi menafkahi keluarga.
Hari-harinya dimulai sebelum fajar menyingsing dan berakhir ketika malam sudah larut. Tangannya kapalan, kulitnya legam, tapi hatinya tak pernah lelah memupuk satu cita-cita besar: menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin.
Sering kali ia menahan diri dari keinginan pribadi demi biaya sekolah. Motor tuanya yang sering mogok tetap ia rawat karena setiap rupiah baginya lebih berharga jika diinvestasikan untuk pendidikan anak. “Pendidikan adalah warisan terbaik,” begitu keyakinannya.
Jerih payah itu akhirnya mulai membuahkan hasil. Anak pertama S berhasil lulus SMA dan diterima di perguruan tinggi Swasta Kebahagiaan itu tak lama kemudian disusul oleh kabar baik lain: anak kedua pun melanjutkan pendidikan tinggi, dan sang istri resmi diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Kehidupan keluarga mulai terasa lebih lapang. Penghasilan istri membantu menopang keuangan, anak-anak semakin mandiri, dan suasana rumah dipenuhi tawa. Meski begitu, S tidak berhenti bekerja. Ia percaya, teladan orang tua tak berhenti pada memberi nafkah, tapi juga pada memberi contoh tentang ketekunan dan rasa syukur.
Kini, S berada di tahap hidup yang lebih tenang. Anak pertama telah bekerja, anak kedua sedang menyelesaikan semester 6 kuliahnya, dan sang istri menjalankan tugasnya sebagai PPPK.
Di rumah, setiap sudut terasa lebih hangat: canda tawa anak pertama saat pulang kerja, cerita kuliah dari anak kedua, dan obrolan ringan dengan istri yang sibuk menjalankan tanggung jawabnya. S memandang semua itu dengan mata berbinar — bukan lagi dengan cemas, melainkan dengan penuh rasa syukur.
Baginya, semua pencapaian ini hanyalah titipan dari Allah. Kini ia menekuni ibadah dengan lebih sungguh-sungguh, memohon agar keluarganya senantiasa berada dalam lindungan dan rahmat-Nya. Sebab S yakin, harta yang sejati bukanlah yang disimpan di tangan, melainkan yang dibawa kelak menghadap Sang Pencipta. (Penulis Sugeng)