MELIHAT sosok yang dulunya begitu vokal menyuarakan kebenaran mendadak berada di barisan kekuasaan memang sering kali memicu kekecewaan mendalam. Rasa kaget itu sebenarnya wajar terjadi ketika ekspektasi moral kita gantungkan terlalu tinggi pada seorang manusia. Niccolo Machiavelli pernah menegaskan bahwa seorang pemimpin atau tokoh politik sering kali harus bertindak bertentangan dengan iman, kemanusiaan, dan kebaikan demi mempertahankan posisinya.
Dunia politik pada dasarnya berjalan di atas roda kepentingan yang dinamis dan sangat pragmatis. Tidak ada lawan abadi dan tidak ada kawan sejati, sebab pergerakan mereka selalu bermuara pada arah angin kepentingan yang sama. Ketika sebuah tawaran posisi mampu menyelaraskan kepentingan pribadi mereka, prinsip yang selama ini digaungkan bisa bergeser dalam sekejap mata.
Realitas ini mengajarkan kita untuk tidak pernah mengkultuskan siapa pun secara berlebihan dalam ruang publik. Menaruh kepercayaan tanpa celah hanya akan membuka pintu menuju rasa kecewa yang berulang kali terjadi dalam sejarah humanitas. Aristoteles bahkan pernah berpesan bahwa kita harus lebih mencintai kebenaran daripada mencintai sahabat atau idola kita sendiri agar pikiran tetap jernih.
Setiap kemungkinan selalu terbuka lebar, termasuk melihat figur populer idola masyarakat bertransformasi menjadi bagian dari sistem kekuasaan. Kesadaran ini bukan ajakan untuk menjadi pribadi yang pesimis, melainkan panggilan untuk menjadi pemikir yang lebih dewasa. Kita perlu terus mengasah akal sehat, memelihara daya kritis, dan menjadikan belajar sebagai proses sepanjang hayat agar tidak mudah terpedaya ilusi. (*)
Penulis Opini : Herki Mahendra (Jurnalis / Redaktur Surakarta)