Kamis, 1 Oktober 2026
TERKINI
• Pancasila Dikumandangkan, Keadilan Dipertanyakan (37 menit yang lalu) • Renungan Suci di Tugu Pancasila Blora, Pemuda Pancasila Ajak Masyarakat Bumikan Nilai-Nilai Pancasila (8 jam yang lalu) • Lampung Selatan, Duduki Pringkat 3 Nasional Dalam PPD 2026 (11 jam yang lalu) • Secara Aklamasi Mas Bro Jadi Ketua Umum DPD LPM Kabupaten Lampung Selatan (18 jam yang lalu) • Dr Darlian Pone Lantik Citra Dianto Sebagai Ketua PK Partai Golkar Umpu Semenguk (18 jam yang lalu) • Pemkab Blora Usulkan Rp8,5 Miliar untuk Pilkades Serentak 242 Desa pada 2027 (19 jam yang lalu) • Dukung Perencanaan Pembangunan Desa, Babinsa Hadiri Musrenbangdes (21 jam yang lalu) • Duta Baca Desa di Blora Dorong Generasi Muda Manfaatkan Gadget untuk Literasi dan Potensi Desa (22 jam yang lalu) • Ponpes Al Abror Rayakan HUT ke-4, Plt Asisten II Bernostalgia dan Ajak Warga Waspada Kebakaran (1 hari yang lalu) • Dari TOGA ke Pasar Digital, UMS Bekali Mitra PAKYA Herbal Strategi Instagram dan WhatsApp Business (1 hari yang lalu)
OPINI Nasional 01 Oktober 2026, 07:39 WIB 11 PDF

Pancasila Dikumandangkan, Keadilan Dipertanyakan

Sugeng
Oleh: Sugeng • ~2 mnt baca
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Pancasila Dikumandangkan, Keadilan Dipertanyakan
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / Sugeng

OPINI, INFODESANEWS — Pancasila kembali memenuhi ruang publik setiap 1 Oktober. Spanduk dipasang, ucapan bertebaran, upacara digelar, dan kata "Kesaktian Pancasila" kembali terdengar dari berbagai sudut negeri.

Tetapi setelah seremoni selesai, pertanyaan yang lebih penting justru dimulai: Apakah Pancasila benar-benar sakti ketika berhadapan dengan realitas rakyat?

Sebab kesaktian Pancasila tidak pernah diukur dari seberapa banyak spanduk yang terpasang atau seberapa lantang teksnya dibacakan.

Kesaktian itu seharusnya terlihat dari bagaimana negara memperlakukan rakyatnya.

Pancasila berbicara tentang kemanusiaan. Tetapi rakyat membutuhkan pelayanan yang manusiawi.

Pancasila berbicara tentang persatuan. Tetapi kepentingan publik jangan sampai terbelah oleh kepentingan kelompok.

Pancasila berbicara tentang musyawarah. Tetapi suara masyarakat jangan hanya dicatat dalam notulen, lalu dilupakan setelah rapat selesai.

Dan Pancasila berbicara tentang keadilan sosial. Di sinilah pertaruhannya paling nyata.

Apa arti keadilan sosial jika pembangunan belum dirasakan secara merata?

Apa arti musyawarah jika suara rakyat hanya didengar ketika menguntungkan?

Apa arti Pancasila jika kritik terhadap kebijakan justru dianggap sebagai gangguan?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan bentuk penolakan terhadap Pancasila. Justru sebaliknya, kritik tersebut merupakan cara untuk mengingatkan bahwa Pancasila tidak boleh berhenti sebagai simbol.

Pancasila semestinya menjadi batas moral bagi setiap kekuasaan. Kekuasaan boleh memiliki kewenangan, tetapi tidak boleh kehilangan kepekaan.

Pemerintah boleh mengambil keputusan, tetapi keputusan tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

Anggaran boleh disusun, program boleh direncanakan, pembangunan boleh dicanangkan. Namun pada akhirnya rakyat berhak bertanya: untuk siapa semua itu dikerjakan?

Di sinilah peringatan Hari Kesaktian Pancasila seharusnya tidak hanya menjadi agenda seremonial.

Sebab ada ironi ketika Pancasila terlihat begitu gagah di spanduk, tetapi nilai keadilan, kemanusiaan dan keberpihakan kepada rakyat terasa lemah di lapangan.

Pancasila tidak boleh menjadi dekorasi kekuasaan. Ia harus menjadi kompas yang mengingatkan bahwa jabatan adalah amanah, anggaran adalah uang rakyat, kebijakan adalah tanggung jawab, dan kritik adalah bagian dari kontrol publik.

Maka 1 Oktober semestinya bukan hanya hari untuk mengulang sejarah.

Ini adalah saat untuk bertanya kepada diri sendiri—terutama kepada mereka yang memegang amanah publik: Apakah kita sedang menjaga kesaktian Pancasila, atau hanya sedang merayakan simbolnya?

Sebab rakyat tidak hidup dari spanduk. Rakyat membutuhkan keadilan.

Rakyat tidak makan dari slogan. Rakyat membutuhkan kebijakan yang nyata.

Dan rakyat tidak membutuhkan Pancasila hanya untuk didengar setiap tahun. Rakyat membutuhkan Pancasila untuk dirasakan setiap hari.

Itulah ujian sesungguhnya: Pancasila boleh sakti di spanduk, tetapi jangan sampai tumpul di lapangan. (Penulis Redaksi Infodesanews)


Oleh: Sugeng

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Topik: #OPINI #Nasional #infodesanews #kabarindonesia
Sugeng
Jurnalis Terverifikasi Pemimpin Redaksi / Kawil Lampung

Sugeng

Redaksi Wilayah • Kominfo No. 593
Semua Berita Penulis Ini

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
4 + 4 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi