Jumat, 25 September 2026
TERKINI
• Kodim 0721/Blora dan BAZNAS Bedah Dua Rumah Warga Sambut HUT ke-81 TNI (43 menit yang lalu) • Fly Jaya Buka Rute Penerbangan Reguler Masamba-Makassar Segera Mengudara (2 jam yang lalu) • Ketum LAFKI dr Benny, Dorong RS Elim Rantepao Dikembangkan sebagai Rumah Sakit Pendidikan (2 jam yang lalu) • SDN 1 Plosarjo Terima Bantuan Revitalisasi, Kelas Rusak Kini Siap Jadi Ruang Belajar Nyaman (2 jam yang lalu) • Perkuat Kelembagaan dan Kolaborasi, PWI Sulsel Silaturahmi ke Bank Mandiri (2 jam yang lalu) • Dua Bulan Hampir Berlalu, RDP Limbah PT Ciomas Belum Terwujud, Ada Apa? (17 jam yang lalu) • Geothermal Rajabasa Ditolak Masyarakat, DPRD Siap Teruskan Aspirasi hingga ke Pemerintah Berwenang (23 jam yang lalu) • Bupati Banyumas Dukung GreenMu, Dorong Pengelolaan Sampah Bernilai Ekonomi (1 hari yang lalu) • Ilusa Berbagi, Salurkan 148 Tangki Air Bersih untuk Warga Blora (1 hari yang lalu) • Kejari Lampung Timur Periksa Sejumlah Pihak: Pengusutan Dugaan Korupsi Proyek Sapi Dinas Perikanan dan Peternakan (1 hari yang lalu)
OPINI 14 April 2026, 14:19 WIB 1,761 kali dibaca ~2 mnt baca Bukti Tayang (PDF)

Panduan Perlawanan bagi Komunitas dan Masyarakat Non-Partai

Penulis: Kabiro Blora
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Panduan Perlawanan bagi Komunitas dan Masyarakat Non-Partai
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / Kabiro Blora

BLORA, INFODESANEWS — Pemilu kerap disebut sebagai pesta demokrasi, momentum di mana rakyat memegang kendali atas masa depan bangsanya. Namun, tidak sedikit suara kritis yang menilai bahwa ritual lima tahunan itu hanyalah ilusi partisipasi, bukan ruang perubahan sesungguhnya.

Kritik itu muncul dari mereka yang merasa hidup di bawah ketimpangan struktural. Selembar kertas suara, menurut pandangan ini, tak pernah benar-benar mengubah nasib. Pemilu hanya memberi wajah “rakyat” pada kekuasaan yang tetap berputar di lingkaran sempit para elit.

“Masalahnya bukan sekadar politisi korup, tetapi sistem itu sendiri,” demikian salah satu pokok pikiran dalam kritik terhadap demokrasi elektoral. Pemilu dinilai sebagai alat legitimasi, bukan alat pembebasan.

Sebagai tawaran alternatif, muncul gerakan aksi langsung—tindakan konkret tanpa menunggu perantara atau izin dari penguasa. Aksi langsung bisa berupa komunitas yang memberi makan warga lapar tanpa program pemerintah, warga yang membangun ruang belajar mandiri, atau individu yang menciptakan media sendiri tanpa intervensi korporasi.

Para pendukung aksi langsung menilai bahwa pemilu menjanjikan perubahan di masa depan, sementara aksi langsung menciptakan perubahan saat ini juga. Pemilu memusatkan kekuatan pada segelintir orang, sedangkan aksi langsung menyebarkan solidaritas dan kemandirian.

“Kebebasan bukan tentang memilih siapa yang akan mengatur kita. Kebebasan adalah ketika kita tidak lagi membutuhkan siapa pun untuk mengatur hidup kita,” begitu pesan yang mengemuka.

Namun demikian, aksi langsung dan pemilu tidak selalu harus dipertentangkan secara hitam-putih. Sejumlah kalangan menilai bahwa keduanya bisa berjalan beriringan, tergantung konteks dan tujuan perjuangan masing-masing komunitas.

Yang jelas, satu hal ditekankan: tidak ada yang akan datang menyelamatkan. Perubahan, jika ingin nyata, harus dimulai dari gerakan kolektif di akar rumput.**Red

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Iklan Penulis & Sponsor Space Iklan Disewakan - Hubungi Redaksi

Rekomendasi Shopee Pilihan Redaksi

Diskon Spesial
Topik: #OPINI #infodesanews #kabarindonesia
Kabiro Blora

Kabiro Blora

Kepala Biro Blora

Koordinator pewarta dan liputan wilayah Blora, Sesarengan mBangun Blora, Jawa Tengah.

Redaksi Wilayah • Terverifikasi Kominfo 593

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
7 + 4 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi