Minggu, 8 November 2026
TERKINI
• Perkuat Sinergi Memajukan Pendidikan, FGM Jateng Gelar Silahturahmi Akbar (16 jam yang lalu) • Nasdem Salurkan Bantuan Air Bersih untuk Warga Desa Sukorejo di Tengah Kemarau Panjang (22 jam yang lalu) • Jangan Hanya Bicara Lampung Selatan Maju, Ismail Desak Perda Pesantren Segera Diparipurnakan (1 hari yang lalu) • Pemkab Blora Gandeng PT Agrinas Pangan Nusantara Kembangkan Kawasan Sentra Produksi Pangan (1 hari yang lalu) • Anggota Banggar, Agus Sartono Sentil Rekanan Tak Koordinasi dengan Camat, Dishub Diminta Tindak Overload (1 hari yang lalu) • Jenggis Khan Haikal Soroti Dampak Wacana Pengangkatan PPPK Paruh Waktu, Sekda Siap Koordinasikan ke Pusat (1 hari yang lalu) • LSM PRO RAKYAT Desak Green SM Disetop,Pembangunan Pool Way Halim Segera Disegel (1 hari yang lalu) • Bukan Sekadar Hiburan, Lamsel Fest 2026 Disiapkan Jadi Penggerak Ekonomi Daerah (1 hari yang lalu) • Parenting Akbar SMK Muhammadiyah 6 Gemolong Hadirkan Ustaz Pujiono, Perkuat Sinergi Orang Tua dan Sekolah dalam Mendidik Generasi Saleh (1 hari yang lalu) • Jelang Lamsel Fest 2026, Pemkab Benahi Wajah Pusat Pemerintahan (1 hari yang lalu)
Tak Berkategori 07 September 2026, 18:19 WIB 1,146 PDF

Warga Di Bandar Lampung Meradang,Berjibaku Dengan Abu Vulkanik Tanpa Adanya Aliran Air Dari Perumda Air Minum Way Rilau

Korwil Lampung
Oleh: Korwil Lampung • ~3 mnt baca
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Warga Di Bandar Lampung Meradang,Berjibaku Dengan Abu Vulkanik Tanpa Adanya Aliran Air Dari Perumda Air Minum Way Rilau
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / Korwil Lampung

BANDAR LAMPUNG,INFODESANEWS-Rencana penghentian aliran air hingga tujuh hari oleh Perumda Air Minum Way Rilau menuai keluhan warga,kebijakan tersebut dinilai datang pada waktu yang tidak tepat, ketika masyarakat Bandar Lampung juga tengah menghadapi dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Warga di paksa Berjibaku dengan abu vulkanik tanpa air bersih sangat keras dalam situasi sulit dalam situasi saat ini untuk membersihkan abu vulkanik yang disebabkan dari erupsi anak krakatau tanpa ketersediaan air yang memadai untuk membilas dan membersihkan kediaman ditempat tinggal mereka.

Dalam pengumuman resminya, Perumda Air Minum Way Rilau menyatakan aliran air akan dimatikan sementara mulai Senin (7/9/2026) akibat pekerjaan perbaikan pipa JDU berdiameter 900 milimeter di Jalan Soekarno Hatta.

Estimasi perbaikan disebut mencapai tujuh hari membuat warga meradang,sejumlah wilayah masuk daftar terdampak, yakni Sukabumi, Sukarame, Tanjung Senang, Kedamaian dan sebagian Way Halim.

Bagi warga, persoalannya bukan sekadar air keran tidak mengalir. Penghentian distribusi selama sepekan terjadi ketika kebutuhan air justru meningkat akibat abu vulkanik yang menempel di rumah, kendaraan, jalan dan lingkungan permukiman.

Kalau hanya sehari atau dua hari mungkin masih bisa kami siasati. Ini sampai tujuh hari. Air itu kebutuhan pokok, bukan barang mewah,” keluh seorang warga Sukabumi, Senin (7/9/2026).

Warga mempertanyakan sejauh mana kesiapan PDAM menjamin kebutuhan masyarakat selama jaringan diperbaiki.

Menurutnya, imbauan pelanggan untuk menampung air tidak serta-merta menyelesaikan persoalan. Tidak semua rumah memiliki tempat penampungan dengan kapasitas cukup untuk memenuhi kebutuhan selama tujuh hari.

Kami disuruh menampung air, tetapi kalau persediaan habis bagaimana? Apalagi sekarang abu vulkanik. Rumah harus sering dibersihkan, kendaraan juga harus dicuci. Semua itu butuh air,” ujarnya.

Keluhan warga semakin keras karena gangguan pelayanan terjadi di tengah situasi lingkungan yang tidak normal.

Jangan hanya bilang mohon maaf atas ketidaknyamanan. Kami butuh solusi. Kalau memang air dimatikan tujuh hari, PDAM harus siapkan air bersih pengganti,” kata warga lainnya.

Warga mendesak PDAM Way Rilau menyiapkan mobil tangki air dan titik distribusi air bersih di kawasan terdampak. Langkah tersebut dinilai lebih konkret dibanding sekadar meminta pelanggan melakukan penampungan secara mandiri.

“Kami tidak menolak perbaikan pipa. Silakan diperbaiki karena itu untuk kepentingan pelayanan juga. Tapi jangan sampai selama perbaikan masyarakat yang menanggung seluruh dampaknya,” tegasnya.

Warga Protes dengan tegas,Jangan Bebankan Risiko kepada Warga !

Perbaikan infrastruktur jaringan air memang menjadi kebutuhan untuk menjaga keberlangsungan sistem distribusi. Namun, penghentian pelayanan selama tujuh hari sekaligus menuntut tanggung jawab mitigasi dari perusahaan daerah penyedia air bersih.

Terlebih, masyarakat di sejumlah wilayah Bandar Lampung sedang menghadapi persoalan abu vulkanik. Dalam kondisi seperti itu, kebutuhan air untuk kebersihan justru semakin tinggi.

Karena itu, publik mempertanyakan apakah rencana perbaikan tujuh hari tersebut telah dibarengi skenario pelayanan darurat yang memadai.

Warga pun meminta pemerintah daerah ikut mengawasi distribusi air selama perbaikan berlangsung.

“Jangan sampai warga sudah terkena dampak abu vulkanik, sekarang harus keluar uang lagi untuk membeli air. Pemerintah dan PDAM harus hadir,” ujar warga.***Ronald.

Oleh: Korwil Lampung

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Topik: #Tak Berkategori #infodesanews #kabarindonesia

Berita Terkait Lainnya

Korwil Lampung
Jurnalis Terverifikasi Koordinator Wilayah Lampung

Korwil Lampung

Koordinator liputan investigasi, hukum, dan peristiwa daerah Lampung.

Redaksi Wilayah • Kominfo No. 593
Semua Berita Penulis Ini

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
2 + 7 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi