Minggu, 8 November 2026
TERKINI
• Perkuat Sinergi Memajukan Pendidikan, FGM Jateng Gelar Silahturahmi Akbar (17 jam yang lalu) • Nasdem Salurkan Bantuan Air Bersih untuk Warga Desa Sukorejo di Tengah Kemarau Panjang (23 jam yang lalu) • Jangan Hanya Bicara Lampung Selatan Maju, Ismail Desak Perda Pesantren Segera Diparipurnakan (1 hari yang lalu) • Pemkab Blora Gandeng PT Agrinas Pangan Nusantara Kembangkan Kawasan Sentra Produksi Pangan (1 hari yang lalu) • Anggota Banggar, Agus Sartono Sentil Rekanan Tak Koordinasi dengan Camat, Dishub Diminta Tindak Overload (1 hari yang lalu) • Jenggis Khan Haikal Soroti Dampak Wacana Pengangkatan PPPK Paruh Waktu, Sekda Siap Koordinasikan ke Pusat (1 hari yang lalu) • LSM PRO RAKYAT Desak Green SM Disetop,Pembangunan Pool Way Halim Segera Disegel (1 hari yang lalu) • Bukan Sekadar Hiburan, Lamsel Fest 2026 Disiapkan Jadi Penggerak Ekonomi Daerah (1 hari yang lalu) • Parenting Akbar SMK Muhammadiyah 6 Gemolong Hadirkan Ustaz Pujiono, Perkuat Sinergi Orang Tua dan Sekolah dalam Mendidik Generasi Saleh (1 hari yang lalu) • Jelang Lamsel Fest 2026, Pemkab Benahi Wajah Pusat Pemerintahan (1 hari yang lalu)
LIFESTYLE 07 Maret 2021, 03:21 WIB 1,542 PDF

Wakil Ketua DPD RI Meminta Bulog Dapat Menyerap Hasil Panen Secara Maksimal

admin
Oleh: admin • ~3 mnt baca
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Wakil Ketua DPD RI Meminta Bulog Dapat Menyerap Hasil Panen Secara Maksimal
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / admin

JAKARTA,Infodesanews.com – Menyikapi potensi terhadap kenaikan produksi padi pada masa panen mendatang, Wakil Ketua DPD RI, Sultan B Najamudin melalui keterangan resminya Sabtu (06/03/2021) meminta Bulog dapat menyerap hasil panen secara maksimal.

Menurut data yang dirilis BPS, pada 2020, luas panen padi sebesar 10,66 juta hektare dengan produksi sebesar 54,65 juta ton GKG. Jika dikonversikan menjadi beras, produksi beras pada 2020 mencapai 31,33 juta ton.

Potensi produksi padi pada subround Januari–April 2021 diperkirakan sebesar 25,37 juta ton GKG, mengalami kenaikan sebanyak 5,37 juta ton atau 26,88 persen dibandingkan subround yang sama pada 2020 yang sebesar 19,99 juta ton GKG

Berdasarkan asumsi tersebut dan output dari program food estate dibeberapa daerah, Kementan memperkirakan terjadi kenaikan produksi gabah kering giling sebesar 5,37 juta ton dibandingkan triwulan pertama 2020 yang hanya 19,99 juta ton GKG.

Bila potensi kenaikan tersebut benar terjadi, produksi yang tinggi harus mendapatkan prioritas untuk diserap pasar agar berdampak langsung pada kesejahteraan petani.

“Kita semua berharap Bulog dan pasar domestik dapat menyerap langsung secara penuh hasil petani. Sebab kondisi dilapangan menunjukkan ada marjin yang cukup lebar antara harga jual beras dan gabah ditingkat petani yang tidak sebanding dengan harga ditingkat pedagang,” ujar senator muda asal Bengkulu tersebut.

Terkait hal tersebut, Mantan wakil gubernur provinsi Bengkulu tersebut berharap Bulog dapat memotong mata rantai distribusi beras atau gabah yang tidak menguntungkan petani dengan cara membeli langsung hasil panen kepada petani bukan dengan membeli beras dipenggilingan (pengusaha).

“Bulog harus menjadi penyeimbang harga komoditas beras, dan tidak boleh hanya berorientasi pokok kepada keuntungan (pendapatan) saja. Bulog harus masuk dan hadir ketengah petani,” pinta pria yang akrab dipanggil SBN itu.

Sultan mengingatkan bahwa selain isu kesejahteraan petani nasional, Bulog juga harus mampu mengoptimalkan fungsinya sebagai pengendali stok pangan nasional dan stabilisator harga.

Kedepan lanjut Sultan, pemerintah harus lebih menguatkan intervensi terhadap kebutuhan pokok (beras) dengan tidak menyerahkan harga sepenuhnya kepada mekanisme pasar. Intervensi dengan penetapan standar harga untuk sejumlah komoditas pokok seperti beras pasti dapat berdampak pada stabilitas harga secara jangka panjang.

“Dalam meningkatkan produktifitas petani, pemerintah harus melakukan dua hal, yaitu memberikan kepastian harga terhadap seluruh produk petani dalam negeri serta sekaligus melakukan pembatasan impor terhadap komoditas pokok tertentu. Jika itu terwujud, maka saya yakin petani nasional kita akan kuat, produktif dan sejahtera”, tuturnya.

Ditanya mengenai keinginan pemerintah untuk melakukan impor beras dalam menghadapi lebaran, Sultan menanggapi bahwa jika produksi dalam negeri masih dapat memenuhi kebutuhan permintaan nasional, strategi jangka pendek yang harus dilakukan pemerintah adalah melakukan operasi pasar secara masif dengan melibatkan seluruh stakeholder; baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun kepolisian demi memastikan tidak ada pihak yang mengambil keuntungan dengan menimbun barang (beras) agar tidak terjadi kelangkaan serta permainan harga pada saat menjelang hari raya.

“Tidak boleh sedikit-sedikit impor, bahkan setiap tahun kita mengulang-ulang untuk dihadapkan oleh masalah yang sama. Padahal potensi pertanian kita sungguh luar biasa, hanya saja masalahnya selama ini produktifitas hasil tani kita belum optimal. Kita pernah swasembada beras, dan itu bisa kembali kita wujudkan bersama. Maka pemerintah harus fokus pada rencana jangka pendek terhadap masalah yang akan terjadi dalam waktu dekat dan juga membangun kebijakan yang berorientasi jangka panjang untuk kemajuan pertanian kita dimasa depan”, tutupnya.(SBN)

Oleh: admin

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Topik: #LIFESTYLE #infodesanews #kabarindonesia
admin
Jurnalis Terverifikasi Wartawan / Pewarta Redaksi

admin

Jurnalis dan kontributor portal berita siber INFODESANEWS - Bersama Membangun Indonesia.

Redaksi Wilayah • Kominfo No. 593
Semua Berita Penulis Ini

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
8 + 3 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi