Senin, 9 November 2026
TERKINI
• Luwes Orange Run Meriahkan HUT ke-59 Luwes Grup di Blora (14 jam yang lalu) • Perkuat Sinergi Memajukan Pendidikan, FGM Jateng Gelar Silahturahmi Akbar (1 hari yang lalu) • Nasdem Salurkan Bantuan Air Bersih untuk Warga Desa Sukorejo di Tengah Kemarau Panjang (1 hari yang lalu) • Jangan Hanya Bicara Lampung Selatan Maju, Ismail Desak Perda Pesantren Segera Diparipurnakan (1 hari yang lalu) • Pemkab Blora Gandeng PT Agrinas Pangan Nusantara Kembangkan Kawasan Sentra Produksi Pangan (2 hari yang lalu) • Anggota Banggar, Agus Sartono Sentil Rekanan Tak Koordinasi dengan Camat, Dishub Diminta Tindak Overload (2 hari yang lalu) • Jenggis Khan Haikal Soroti Dampak Wacana Pengangkatan PPPK Paruh Waktu, Sekda Siap Koordinasikan ke Pusat (2 hari yang lalu) • LSM PRO RAKYAT Desak Green SM Disetop,Pembangunan Pool Way Halim Segera Disegel (2 hari yang lalu) • Bukan Sekadar Hiburan, Lamsel Fest 2026 Disiapkan Jadi Penggerak Ekonomi Daerah (2 hari yang lalu) • Parenting Akbar SMK Muhammadiyah 6 Gemolong Hadirkan Ustaz Pujiono, Perkuat Sinergi Orang Tua dan Sekolah dalam Mendidik Generasi Saleh (2 hari yang lalu)
INFODESA 16 November 2017, 09:07 WIB 2,782 PDF

Tips Kades Ponggok yang Mengelola BUMDes Layaknya Skripsi

Redaksi
Oleh: Redaksi • ~3 mnt baca
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Tips Kades Ponggok yang Mengelola BUMDes Layaknya Skripsi
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / Redaksi
KLATEN, Infodesanews.com – Keberhasilan Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah agaknya menyedot perhatian banyak kalangan terutama desa. Bagaimana tidak, Desa Ponggok yang dulu dikenal sebagai desa miskin, justru telah memiliki Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dengan omzet mencapai Rp12 Miliar. Maka tak heran jika hampir setiap hari desa ini dihampiri oleh aparat desa yang ingin belajar mengelola BUMDes.
Kali ini, Selasa (14/11/2017), kunjungan datang dari 81 BUMDes se-Jawa Tengah dan DIY. Mereka adalah peserta kegiatan BUMDes Talk yang digelar oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UGM di Solo sejak kemarin. Kedatangan mereka adalah untuk melihat dan bertukar pengalaman langsung terkait keberhasilan BUMDes bernama Tirta Mandiri ini.
“Ponggok dulu masih tertinggal, potensinya belum tergali. Dulu tahun 2007 ketika kami awal menjadi Kepala Desa kami bingung, Ponggok ini banyak air, tapi kami bingung mau mengolahnya seperti apa,” ujar Kepala Desa Ponggok, Junaedhi Mulyono di hadapan peserta BUMDes Talk.
Mulyono mengatakan, untuk mengembangkan BUMDes, hal yang pertama dibutuhkan selain potensi adalah permasalahan dan data. Dalam hal ini ia meminta kerjasama dari LPPM UGM untuk mengirimkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik di desanya hingga tiga tahun berturut-turut.
Adapun KKN pertama fokus pada penelitian permasalahan desa seperti kemiskinan, pengangguran, dan sebagainya. Selanjutnya KKN ke dua fokus pada potensi desa, kemudian KKN ke tiga fokus pada pemberdayaan ekonomi.
“Akhirnya kami dulu berpikir bagaimana mengolah ini seperti skripsi. Ada tantangan, banyak pengangguran, banyak rentenir, akhirnya kami bersurat ke UGM minta diadakan KKN tematik. Kami ajak untuk penelitian masalah yang ada. Karena kalau mau pengembangan, maka data yang diperlukan,” terangnya.
Ia mengakui bahwa menjadikan BUMDes berhasil bukanlah pekerjaan yang mudah, sehingga butuh komitmen besar untuk menjalankannya. Maka tidak heran jika banyak desa yang kebingungan dalam mengelola BUMDes.
“Nah ini harus dikembalikan ke tujuan visi dan misi desa. Dari sini kita akan ketemu potensi desa mau diolah seperti apa,” ujarnya.
Di sisi lain, Direktur Utama BUMDes Tirta Mandiri, Joko Winarno mengatakan, BUMDes yang telah memiliki 13 unit usaha tersebut telah dikelola secara profesional. Tahun 2015 BUMDes tersebut mampu meraih omzet Rp6,2 Miliar, Tahun 2016 Rp10,3 Miliar, dan Tahun 2017 hingga Oktober lalu mencapai Rp12 Miliar.
“Pengelolaan kami sudah dalam bentuk holding dan dikelola secara profesional. Potensi sekecil apapun kalau dikelola secara optimal akan menghasilkan hal yang luar biasa,” ujarnya.
Umbul Ponggok sendiri lanjutnya, adalah wisata kolam desa yang telah mendapatkan rata-rata sebanyak 50.000 pengunjung per bulan. Sehingga dari keuntungan tersebut, Desa Ponggok pun membuat program satu rumah satu sarjana. Yang mana dalam hal ini, satu anak dari setiap rumah akan dibiayai kuliahnya oleh desa.
“Dari sisi kesehatan, kalauada warga yang sakit sudah tidak lagi mikir biaya. Pemerintah desa sudah mengcover semua,” ujarnya.
Oleh: Redaksi

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Topik: #INFODESA #infodesanews #kabarindonesia
Redaksi
Jurnalis Terverifikasi Dewan Redaksi

Redaksi

Jurnalis dan kontributor portal berita siber INFODESANEWS - Bersama Membangun Indonesia.

Redaksi Wilayah • Kominfo No. 593
Semua Berita Penulis Ini

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
3 + 2 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi