Kamis, 24 September 2026
NASIONAL 23 Oktober 2017, 06:01 WIB 1,026 kali dibaca Bukti Tayang (PDF)

Shalawat Kebangsaan, Wajah Pesantren Wajah Indonesia

Jurnalis / Kontributor: Redaksi
Jumlah Tayang: 1,026 tayang
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Shalawat Kebangsaan, Wajah Pesantren Wajah Indonesia
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / Redaksi

SEMARANG, INFODESANEWS | Peran santri dalam membentuk Indonesia dan keindonesiaan menjadi bahan utama dalam spirit orang Islam yang hidup di Indonesia dan orang Indonesia yang beragama Islam. Hal tersebut dinyatakan oleh Habib Umar Mutahar dalam kegiatan Shalawat Kebangsaan. Mengangkat tema Wajah Pesantren Wajah Indonesia kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menyambut hari santri nasional semalam (21/10) di lapangan Pancasila Semarang.

Dalam tausyiahnya Habib Umar juga mengingatkan ribuan jama’ah yang hadir agar tidak mudah tergoda dan mengikuti aliran keagamaan yang baru muncul, “Gak usah melu-melu sing anyar-anyar. Wes pokoke angger melu Kiai mesti insya Allah slamet” nasehatnya dalam bahasa jawa (Tidak perlu ikut-ikutan aliran yang baru. Sudahlah intinya kalau mengikuti Kiai insya Allah pasti selamat)
Umara, Ulama dan Rakyat Bersatu
Kegiatan Shalawat Kebangsaan semalam menunjukkan simbol kekuatan bangsa. Ulama, Umara (Pemerintah) dan Masyarakat bersholawat dan berdoa bersama. Antusias masyarakat bersambut pula dengan hadinnya Menteri Agama Luqman Hakim Saifuddin, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Walikota Semarang Hendrar Prihadi, Para Guru Besar dan Rektor.
Dalam menjaga dan merawat bangsa dan negara Menteri Lukman dalam sambutannya mengimbau tentang pentingnya penguasaan terhadap ilmu teknologi di era digital seperti saat ini,

“Menjaga Indonesia sekaligus menjaga peradaban dunia. Kita harus menguasai media sosial. Sebab kalau tidak maka media sosial akan dikuasai oleh mereka yang memiliki paham keagamaan yang tidak sesuai dengan yang diajarkan para pendahulu kita, yaitu islam yang washatiyyah.”

Lukman Hakim juga menjelaskan tentang paham berislam dengan memadukan antara teks dan kontekstual sehingga antara rasio dengan Wahyu memiliki peran yang berimbang dan tidak mendewakan teks yang menghasilkan radikalis dan tidak pula mendewakan akal pikiran yang menghasilkan liberalis. Menteri yang lulusan pesantren tersebut memberikan perumpamaan dengan membuat komik,

“Membuat komik adalah cara kita mengolah kepekaan rasa kita sehingga agama tidak hanya dipahami dengan kemampuan nalar kita tapi juga kepekaan rasa.”

Lebih lanjut dirinya juga menyampaikan banyak hal tentang santri, pesantren dan beberapa kebijakan pemerintah dalam memberdayakan potensi pesantren dan memberikan rekognisi (pengakuan) terhadap output pendidikan pesantren yang dinilai setara dengan lembaga pendidikan formal pada umumnya dengan sarat tertentu.**Red.

Iklan Penulis & Sponsor Pemerintah Kabupaten Blora - Dinas PMD Dirgahayu RI Ke-81

Rekomendasi Shopee Pilihan Redaksi

Diskon Spesial
Kamera Mirrorless 4K WiFi Ultra HD Kit Lensa
Kamera Mirrorless 4K WiFi Ultra HD Kit Lensa
Rp 3.499.000 Rp 5.200.000
Beli di Shopee
Smartphone 5G 8GB/256GB Baterai 6000mAh
Smartphone 5G 8GB/256GB Baterai 6000mAh
Rp 2.199.000 Rp 2.899.000
Beli di Shopee
Topik: #NASIONAL #infodesanews #kabarindonesia
Redaksi Infodesanews

Redaksi Infodesanews

Redaksi Pelaksana & Admin

Dewan Redaksi Pusat INFODESANEWS Bersama Membangun Indonesia.

Redaksi Wilayah Terverifikasi Kominfo 593

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
5 + 4 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi