LAMPUNG SELATAN, INFODESANEWS — Menanggapi paparan yang disampaikan mahasiswa, Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama menyampaikan apresiasi atas keberanian serta kepedulian generasi muda terhadap arah pembangunan daerah. Meski demikian, ia juga memberikan catatan kritis terkait dinamika komunikasi yang muncul dalam forum audiensi tersebut.
Menurut Egi, kritik dan masukan merupakan bagian penting dalam proses demokrasi. Namun ia menilai, paparan yang disampaikan masih didominasi tuntutan tanpa diiringi pengakuan atas berbagai program yang telah berjalan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Saya mengucapkan terima kasih atas kehadiran rekan-rekan mahasiswa. Tentu semua saran dan kritik saya apresiasi. Namun jujur, dari paparan tadi saya belum mendengar kalimat terima kasih, yang muncul justru tuntutan. Padahal, program yang kami jalankan hari ini manfaatnya langsung dirasakan rakyat. Tapi it’s okay, di sinilah kita belajar dewasa dalam berdemokrasi,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan suasana diskusi yang berlangsung terbuka dan lugas, namun tetap berada dalam koridor dialog yang konstruktif.
Egi menegaskan bahwa dirinya bukan sosok pemimpin yang alergi terhadap kritik, baik secara langsung maupun melalui ruang digital.
“Saya bukan tipe orang yang anti kritik. Di media sosial saja, kalau ada seribu atau dua ribu orang mengkritik, saya terima dengan baik. Kalau saya anti kritik, tentu sejak lama kolom komentar sudah saya tutup,” tegasnya.
Lebih lanjut, Egi menekankan komitmen pemerintah daerah dalam menerapkan tata kelola pemerintahan yang inklusif dan transparan, serta membuka akses informasi publik seluas-luasnya, baik bagi insan pers maupun masyarakat.
Ia berharap sarasehan tersebut dapat menjadi ruang temu yang sehat antara mahasiswa sebagai kontrol sosial dan pemerintah sebagai penyelenggara eksekutif. Dengan demikian, kritik yang disampaikan tidak berhenti pada tuntutan semata, melainkan bermuara pada kolaborasi nyata demi kemajuan Kabupaten Lampung Selatan. (red)