Senin, 9 November 2026
TERKINI
• Luwes Orange Run Meriahkan HUT ke-59 Luwes Grup di Blora (16 jam yang lalu) • Perkuat Sinergi Memajukan Pendidikan, FGM Jateng Gelar Silahturahmi Akbar (1 hari yang lalu) • Nasdem Salurkan Bantuan Air Bersih untuk Warga Desa Sukorejo di Tengah Kemarau Panjang (1 hari yang lalu) • Jangan Hanya Bicara Lampung Selatan Maju, Ismail Desak Perda Pesantren Segera Diparipurnakan (1 hari yang lalu) • Pemkab Blora Gandeng PT Agrinas Pangan Nusantara Kembangkan Kawasan Sentra Produksi Pangan (2 hari yang lalu) • Anggota Banggar, Agus Sartono Sentil Rekanan Tak Koordinasi dengan Camat, Dishub Diminta Tindak Overload (2 hari yang lalu) • Jenggis Khan Haikal Soroti Dampak Wacana Pengangkatan PPPK Paruh Waktu, Sekda Siap Koordinasikan ke Pusat (2 hari yang lalu) • LSM PRO RAKYAT Desak Green SM Disetop,Pembangunan Pool Way Halim Segera Disegel (2 hari yang lalu) • Bukan Sekadar Hiburan, Lamsel Fest 2026 Disiapkan Jadi Penggerak Ekonomi Daerah (2 hari yang lalu) • Parenting Akbar SMK Muhammadiyah 6 Gemolong Hadirkan Ustaz Pujiono, Perkuat Sinergi Orang Tua dan Sekolah dalam Mendidik Generasi Saleh (2 hari yang lalu)
INFODESA 12 Agustus 2026, 18:25 WIB 1,512 PDF

Ngunduh Wohing Katresnan: Tausyah Manten Wayang Golek Pitutur di Batan

Kabiro Surakarta
Oleh: Kabiro Surakarta • ~3 mnt baca
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Ngunduh Wohing Katresnan: Tausyah Manten Wayang Golek Pitutur di Batan
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / Kabiro Surakarta

BOYOLALI — INFODESANEWS.COM | Pernikahan menjadi momentum bagi dua insan untuk memulai perjalanan kehidupan baru. Setelah melalui proses panjang, kini saatnya “ngunduh wohing katresnan”—memetik buah dari cinta, ikhtiar, doa, dan restu kedua orang tua.

Pesan tersebut disampaikan Ki Ustad Pujiono Pimpinan Ponpes Manafiul ‘Ulum canden Sambi. dalam acara Tausyah Manten Wayang Golek Pitutur pada hajatan pernikahan Devita Silviana dan Mukhlis Dwi Hartanto, Rabu, 12 Agustus 2026.

Hajatan digelar di rumah Bapak Sajiyo dan Ibu Rambat, Ngendo Lor RT 05/RW 01, Batan, Banyudono, Boyolali, yang merupakan orang tua dari mempelai putri, Devita Silviana.

Dalam tausyahnya, Pujiono menyampaikan bahwa tujuan utama membangun rumah tangga bukan sekadar hidup bersama, tetapi bagaimana pasangan mampu menciptakan kehidupan yang sakinah—tenang, tenteram, dan penuh keberkahan. Tutur Pujiono Yang juga Komisi Dakwah MUI Kecamatan Sambi

«“Tujuan rumah tangga itu supaya sakinah, supaya keduanya bisa tenang. Tetapi ketenangan itu tidak datang dengan sendirinya. Suami harus belajar memahami istri, istri harus belajar memahami suami. Keduanya harus saling mengerti dan saling percaya,” tutur Pujiono.»

Menurutnya, rumah tangga akan menghadapi berbagai persoalan. Karena itu, pasangan suami istri tidak cukup hanya bermodalkan cinta. Cinta harus dipandu ilmu agama, sehingga ketika menghadapi perbedaan, keduanya memiliki pedoman dalam bersikap.

Pujiono juga mengingatkan pentingnya membangun kepercayaan. Suami dan istri harus menjadi tempat yang aman untuk berbagi cerita, menyampaikan persoalan, dan mencari solusi bersama.

“Jangan sedikit-sedikit curiga. Jangan sedikit-sedikit marah. Kalau ada masalah, dibicarakan. Kalau ada perbedaan, dicari jalan tengah. Rumah tangga itu bukan mencari siapa yang menang, tetapi bagaimana keduanya tetap bisa berjalan bersama,” pesannya.

Selain saling memahami dan saling percaya, Pujiono menekankan agar kehidupan rumah tangga selalu dilandasi ilmu agama. Shalat, membaca Al-Qur’an, belajar agama, dan membiasakan akhlak yang baik menjadi fondasi agar keluarga tidak mudah goyah menghadapi perubahan zaman.

Hal penting lainnya yang ditekankan adalah berbakti kepada orang tua.

Pernikahan, menurut Pujiono, bukan berarti memutus hubungan dengan orang tua. Justru setelah menikah, bakti kepada kedua orang tua harus semakin baik.

“Jangan lupa, di balik pernikahan ini ada orang tua yang telah merawat, mendidik, membesarkan, dan mengantarkan anak-anaknya sampai ke jenjang pernikahan. Maka setelah menikah, jangan lupa berbakti kepada Bapak dan Ibu,” ungkapnya.

Melalui konsep Wayang Golek Pitutur, pesan-pesan tersebut disampaikan dengan pendekatan budaya, humor, dan cerita yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Wayang tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi menjadi tuntunan bagi pengantin dan keluarga yang hadir.

Lakon “Ngunduh Wohing Katresnan” menjadi simbol bahwa pernikahan adalah buah dari perjalanan cinta yang harus terus dirawat. Buah cinta tersebut tidak cukup hanya dinikmati pada hari pernikahan, tetapi harus dijaga agar semakin matang dan membawa keberkahan sepanjang kehidupan.

Di akhir tausyah, Pujiono mengajak kedua mempelai untuk membangun rumah tangga dengan empat bekal utama: saling mengerti, saling percaya, berpegang pada ilmu agama, dan tidak melupakan bakti kepada orang tua.

Semoga Devita Silviana dan Mukhlis Dwi Hartanto mampu menjalani kehidupan rumah tangga dengan penuh cinta dan kesabaran, menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, serta menjadi sumber kebahagiaan bagi kedua orang tua dan keluarga besar.

“Ngunduh wohing katresnan, bukan hanya memetik buah cinta hari ini, tetapi merawatnya agar menjadi buah keberkahan sampai akhir hayat.” (*/Puji/Redaksi Solo)

Oleh: Kabiro Surakarta

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Topik: #INFODESA #infodesanews #kabarindonesia
Kabiro Surakarta
Jurnalis Terverifikasi Kepala Biro Solo Raya & Surakarta

Kabiro Surakarta

Pewarta isu sosial kemasyarakatan, budaya keraton, dan pemerintahan Solo Raya.

Redaksi Wilayah • Kominfo No. 593
Semua Berita Penulis Ini

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
3 + 7 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi