Kamis, 24 September 2026
KHAZANAH 15 Maret 2026, 20:41 WIB 1,966 kali dibaca Bukti Tayang (PDF)

Muncul Fenomena Malas Mudik Demi Jaga Kesehatan Mental, Begini Trik Menghadapi “Interogasi” Lebaran Tanpa Drama

Jurnalis / Kontributor: Kabiro Surakarta
Jumlah Tayang: 1,966 tayang
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Muncul Fenomena Malas Mudik Demi Jaga Kesehatan Mental, Begini Trik Menghadapi “Interogasi” Lebaran Tanpa Drama
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / Kabiro Surakarta

SOLO- INFODESANEWS | Lebaran yang akan datang sebentar lagi seharusnya mendapat sambutan antusias, namun justru muncul fenomena malas mudik di kalangan anak muda.

Dewasa ini, fenomena malas mudik hingga enggan bertemu keluarga besar merupakan sebuah realitas sosial yang nyata di kalangan Milenial dan Gen Z.

​Sebab, alih-alih menjadi momen silaturahim, kumpul keluarga sering kali berubah menjadi ajang “interogasi terbuka” mengenai pencapaian hidup.

Mengapa fenomena ini terjadi?
Budaya Kolektivisme vs Privasi Individu

​Secara sosiologis, Indonesia adalah penganut budaya Kolektivisme yang kental. Merujuk pada teori dimensi budaya Geert Hofstede, dalam masyarakat kolektif, batas antara urusan pribadi dan urusan bersama sangat tipis.
​Bagi generasi boomer atau X, bertanya “Kapan nikah?” atau “Gajinya berapa?” adalah bentuk perhatian dan upaya menyambung silaturahmi.

Namun, bagi Milenial dan Gen Z yang lebih menghargai Individualisme dan privasi, pertanyaan tersebut terasa seperti invasi terhadap ruang personal yang sakral.

Tekanan Social Comparison (Perbandingan Sosial)

​Psikolog Leon Festinger melalui Social Comparison Theory menjelaskan bahwa manusia cenderung mengevaluasi dirinya dengan membandingkan diri kepada orang lain. Saat lebaran, perbandingan ini dipicu secara paksa oleh pertanyaan keluarga.

Ketika sepupu sebaya sudah punya rumah atau anak, sementara kita masih berjuang dengan karier atau kesehatan mental, muncul perasaan tidak nyaman yang membuat kita malas bertemu keluarga besar. Kita merasa sedang “dihakimi” berdasarkan standar sukses orang lain.

Social Fatigue dan Batasan Emosional

​Kumpul keluarga besar membutuhkan energi sosial yang luar biasa besar.

Istilah Social Fatigue atau kelelahan sosial terjadi ketika interaksi menuntut kita untuk selalu tampil “sempurna” dan menjawab rentetan pertanyaan yang sama berulang kali.

​Banyak anak muda lebih memilih merayakan Lebaran secara tenang (low-key) demi menjaga kesehatan mental daripada pulang ke rumah namun merasa “terkuras” secara emosional.

Trik Menghadapi “Interogasi” Lebaran Tanpa Drama

​Jika kamu akhirnya memutuskan untuk tetap mudik, bekali dirimu dengan strategi berikut agar tetap waras.

​Tentukan safety zone.

Cari sepupu atau anggota keluarga yang “satu frekuensi” untuk menjadi teman mengobrol agar kamu tidak merasa sendirian di tengah keramaian.

​Siapkan jawaban “template“.

Siapkan jawaban singkat, padat, dan diplomatis. Contoh: “Doakan saja yang terbaik ya, Bude. Masih proses, nih.” Lalu segera alihkan pembicaraan ke topik makanan atau hobi mereka.

​Berikan batasan waktu.

Kamu tidak harus berada di tengah kerumunan selama 24 jam. Ambil waktu untuk menyendiri di kamar atau sekadar jalan-jalan keluar rumah untuk “menghirup nafas” sejenak. (*/Redslo/dbs)

Iklan Penulis & Sponsor Space Iklan Disewakan - Hubungi Redaksi

Rekomendasi Shopee Pilihan Redaksi

Diskon Spesial
Kamera Mirrorless 4K WiFi Ultra HD Kit Lensa
Kamera Mirrorless 4K WiFi Ultra HD Kit Lensa
Rp 3.499.000 Rp 5.200.000
Beli di Shopee
Smartphone 5G 8GB/256GB Baterai 6000mAh
Smartphone 5G 8GB/256GB Baterai 6000mAh
Rp 2.199.000 Rp 2.899.000
Beli di Shopee
Topik: #KHAZANAH #infodesanews #kabarindonesia
Kabiro Surakarta

Kabiro Surakarta

Kepala Biro Solo Raya & Surakarta

Pewarta isu sosial kemasyarakatan, budaya keraton, dan pemerintahan Solo Raya.

Redaksi Wilayah Terverifikasi Kominfo 593

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
2 + 4 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi