Senin, 9 November 2026
TERKINI
• Luwes Orange Run Meriahkan HUT ke-59 Luwes Grup di Blora (17 jam yang lalu) • Perkuat Sinergi Memajukan Pendidikan, FGM Jateng Gelar Silahturahmi Akbar (1 hari yang lalu) • Nasdem Salurkan Bantuan Air Bersih untuk Warga Desa Sukorejo di Tengah Kemarau Panjang (1 hari yang lalu) • Jangan Hanya Bicara Lampung Selatan Maju, Ismail Desak Perda Pesantren Segera Diparipurnakan (1 hari yang lalu) • Pemkab Blora Gandeng PT Agrinas Pangan Nusantara Kembangkan Kawasan Sentra Produksi Pangan (2 hari yang lalu) • Anggota Banggar, Agus Sartono Sentil Rekanan Tak Koordinasi dengan Camat, Dishub Diminta Tindak Overload (2 hari yang lalu) • Jenggis Khan Haikal Soroti Dampak Wacana Pengangkatan PPPK Paruh Waktu, Sekda Siap Koordinasikan ke Pusat (2 hari yang lalu) • LSM PRO RAKYAT Desak Green SM Disetop,Pembangunan Pool Way Halim Segera Disegel (2 hari yang lalu) • Bukan Sekadar Hiburan, Lamsel Fest 2026 Disiapkan Jadi Penggerak Ekonomi Daerah (2 hari yang lalu) • Parenting Akbar SMK Muhammadiyah 6 Gemolong Hadirkan Ustaz Pujiono, Perkuat Sinergi Orang Tua dan Sekolah dalam Mendidik Generasi Saleh (2 hari yang lalu)
KHAZANAH 15 Maret 2026, 20:41 WIB 2,042 PDF

Muncul Fenomena Malas Mudik Demi Jaga Kesehatan Mental, Begini Trik Menghadapi “Interogasi” Lebaran Tanpa Drama

Kabiro Surakarta
Oleh: Kabiro Surakarta • ~2 mnt baca
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Muncul Fenomena Malas Mudik Demi Jaga Kesehatan Mental, Begini Trik Menghadapi “Interogasi” Lebaran Tanpa Drama
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / Kabiro Surakarta

SOLO- INFODESANEWS | Lebaran yang akan datang sebentar lagi seharusnya mendapat sambutan antusias, namun justru muncul fenomena malas mudik di kalangan anak muda.

Dewasa ini, fenomena malas mudik hingga enggan bertemu keluarga besar merupakan sebuah realitas sosial yang nyata di kalangan Milenial dan Gen Z.

​Sebab, alih-alih menjadi momen silaturahim, kumpul keluarga sering kali berubah menjadi ajang “interogasi terbuka” mengenai pencapaian hidup.

Mengapa fenomena ini terjadi?
Budaya Kolektivisme vs Privasi Individu

​Secara sosiologis, Indonesia adalah penganut budaya Kolektivisme yang kental. Merujuk pada teori dimensi budaya Geert Hofstede, dalam masyarakat kolektif, batas antara urusan pribadi dan urusan bersama sangat tipis.
​Bagi generasi boomer atau X, bertanya “Kapan nikah?” atau “Gajinya berapa?” adalah bentuk perhatian dan upaya menyambung silaturahmi.

Namun, bagi Milenial dan Gen Z yang lebih menghargai Individualisme dan privasi, pertanyaan tersebut terasa seperti invasi terhadap ruang personal yang sakral.

Tekanan Social Comparison (Perbandingan Sosial)

​Psikolog Leon Festinger melalui Social Comparison Theory menjelaskan bahwa manusia cenderung mengevaluasi dirinya dengan membandingkan diri kepada orang lain. Saat lebaran, perbandingan ini dipicu secara paksa oleh pertanyaan keluarga.

Ketika sepupu sebaya sudah punya rumah atau anak, sementara kita masih berjuang dengan karier atau kesehatan mental, muncul perasaan tidak nyaman yang membuat kita malas bertemu keluarga besar. Kita merasa sedang “dihakimi” berdasarkan standar sukses orang lain.

Social Fatigue dan Batasan Emosional

​Kumpul keluarga besar membutuhkan energi sosial yang luar biasa besar.

Istilah Social Fatigue atau kelelahan sosial terjadi ketika interaksi menuntut kita untuk selalu tampil “sempurna” dan menjawab rentetan pertanyaan yang sama berulang kali.

​Banyak anak muda lebih memilih merayakan Lebaran secara tenang (low-key) demi menjaga kesehatan mental daripada pulang ke rumah namun merasa “terkuras” secara emosional.

Trik Menghadapi “Interogasi” Lebaran Tanpa Drama

​Jika kamu akhirnya memutuskan untuk tetap mudik, bekali dirimu dengan strategi berikut agar tetap waras.

​Tentukan safety zone.

Cari sepupu atau anggota keluarga yang “satu frekuensi” untuk menjadi teman mengobrol agar kamu tidak merasa sendirian di tengah keramaian.

​Siapkan jawaban “template“.

Siapkan jawaban singkat, padat, dan diplomatis. Contoh: “Doakan saja yang terbaik ya, Bude. Masih proses, nih.” Lalu segera alihkan pembicaraan ke topik makanan atau hobi mereka.

​Berikan batasan waktu.

Kamu tidak harus berada di tengah kerumunan selama 24 jam. Ambil waktu untuk menyendiri di kamar atau sekadar jalan-jalan keluar rumah untuk “menghirup nafas” sejenak. (*/Redslo/dbs)

Oleh: Kabiro Surakarta

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Topik: #KHAZANAH #infodesanews #kabarindonesia
Kabiro Surakarta
Jurnalis Terverifikasi Kepala Biro Solo Raya & Surakarta

Kabiro Surakarta

Pewarta isu sosial kemasyarakatan, budaya keraton, dan pemerintahan Solo Raya.

Redaksi Wilayah • Kominfo No. 593
Semua Berita Penulis Ini

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
9 + 4 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi