Rabu, 23 September 2026
NASIONAL 12 September 2026, 16:04 WIB 2,619 kali dibaca Bukti Tayang (PDF)

Merayakan Tanah, Mempertanyakan Masa Depan. Suara Petani Pracimantoro di Momentum Hari Tani Nasional

Jurnalis / Kontributor: Kabiro Blora
Jumlah Tayang: 2,619 tayang
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Merayakan Tanah, Mempertanyakan Masa Depan. Suara Petani Pracimantoro di Momentum Hari Tani Nasional
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / Kabiro Blora

INFODESANEWS — Hari Tani Nasional yang diperingati setiap 24 September seharusnya bukan sekadar seremoni mengenang mereka yang bekerja di sawah dan ladang. Lebih dari itu, momentum ini menjadi kesempatan untuk bertanya: masihkah petani memiliki masa depan di tanah yang selama ini menjadi sumber kehidupannya?

Pertanyaan itu mengemuka dari Petani Pracimantoro, Wonogiri, yang berkumpul dalam acara Genduren Gunungsewu. Kegiatan ini bukan hanya pertunjukan seni lokal, tetapi juga upaya merawat rasa syukur, kebersamaan, dan kecintaan terhadap tempat mereka hidup. Melalui genduren dan pertunjukan Wayang Beber, masyarakat menemukan cara lokal untuk berkumpul, mengingat asal-usul, merayakan kehidupan, sekaligus menyadari bahwa tanah, alam, kebudayaan, dan kehidupan sehari-hari mereka tak terpisahkan.

Namun di balik kegembiraan itu, tersimpan keresahan yang mendalam. Bagi petani, mencintai ruang hidup bukan hanya soal menikmati keindahan alam atau mempertahankan tradisi, tetapi juga mempertanyakan apakah tanah tempat mereka menanam, bekerja, membesarkan anak, dan menggantungkan masa depan masih akan tetap menjadi ruang hidup bagi generasi berikutnya.

Petani Pracimantoro pernah merasakan betul bahwa bertani bukan pekerjaan mudah, apalagi di kawasan karst. Tanah tidak selalu dalam, air tidak selalu mudah ditemukan, musim semakin sulit ditebak, dan harga hasil pertanian berfluktuasi saat panen tiba. Mereka tetap menanam karena tanah bukan sekadar tempat bekerja—tanah adalah ruang hidup, sumber pangan, sekaligus warisan yang ingin diteruskan kepada anak-cucu.

Ironisnya, ketika berbagai upaya mulai memudahkan kehidupan pertanian—akses jalan membaik, teknologi tersedia, pasar terbuka, dan pengetahuan berkembang—justru muncul ancaman yang jauh lebih mendasar: hilangnya lahan pertanian itu sendiri.

Jika tanah produktif berubah menjadi kawasan industri, persoalannya bukan hanya kehilangan beberapa bidang sawah atau tegalan. Yang hilang adalah kesempatan keluarga petani untuk terus hidup dari tanahnya. Yang terputus bukan hanya hubungan seseorang dengan sebidang lahan, tetapi kemungkinan sebuah keluarga mempertahankan pekerjaan, pangan, pengetahuan, dan kehidupan yang telah dibangun lintas generasi.

Membahasakan kesejahteraan petani hanya dari berapa rupiah yang diperoleh jika tanahnya dijual tentu terlalu sempit. Tanah pertanian memiliki nilai jauh lebih panjang daripada harga transaksi sesaat. Tanah menghasilkan pangan, menyerap tenaga kerja keluarga, menjaga hubungan sosial desa, dan menjadi ruang hidup lintas generasi.

Kebudayaan dan pertanian bertemu pada satu hal yang sama: keduanya tumbuh dari tempat yang sama dan membentuk rasa memiliki terhadap ruang hidup. Genduren mengajarkan masyarakat untuk berkumpul dan bersyukur atas kehidupan yang dijalani bersama. Seni menjadi cara mengenali kembali siapa mereka dan di mana mereka berpijak. Dari rasa memiliki itulah muncul keberanian untuk menyuarakan ketika ruang hidup mulai menghadapi ancaman.

Keresahan semacam ini tidak berhenti di Pracimantoro. Di berbagai wilayah Jawa Tengah, masyarakat menghadapi persoalan berbeda-beda, tetapi memiliki satu titik temu: ruang hidup mereka berhadapan dengan keputusan pembangunan, kebijakan, atau kepentingan yang sering kali membuat suara mereka harus diperjuangkan agar benar-benar diperhitungkan. Dari pengalaman itulah tumbuh Jateng Guyub, sebuah aliansi masyarakat Jawa Tengah yang mempertemukan berbagai persoalan wilayah dan mendorong pemerintah provinsi hadir memberikan penyelesaian.

Menyongsong Hari Tani Nasional, pada 22–24 September 2026, gerakan Jateng Guyub menjadi ruang mempertemukan suara-suara tersebut. Bukan untuk menyamakan seluruh persoalan menjadi satu isu, apalagi mempertentangkan masyarakat dengan pembangunan, tetapi untuk menunjukkan bahwa di balik setiap persoalan wilayah selalu ada manusia yang hidup di dalamnya—ada petani yang mempertahankan lahannya, masyarakat yang menjaga ruang hidupnya, dan komunitas yang meminta agar kebijakan tidak hanya dilihat dari angka investasi, pertumbuhan ekonomi, atau rencana tata ruang, tetapi juga dari keberlanjutan kehidupan masyarakat di dalamnya.

Bagi petani Pracimantoro, keterlibatan dalam Jateng Guyub bukan berarti meninggalkan persoalan lokal. Justru sebaliknya, pengalaman lokal dibawa menjadi bagian percakapan yang lebih luas. Keresahan tentang lahan pertanian, kawasan karst, sumber air, dan masa depan keluarga petani adalah pengalaman nyata yang layak didengar dalam ruang kebijakan Jawa Tengah. Dari sini, Hari Tani tidak berhenti sebagai perayaan, tetapi menjadi momentum mempertemukan pengalaman masyarakat dengan tanggung jawab pemerintah.

Ketika petani menyampaikan keresahan dalam momentum Hari Tani, suara itu tidak selalu hadir dalam bentuk teriakan keras. Ia dapat hadir melalui genduren, seni, perjumpaan, kebersamaan, maupun gerakan masyarakat lintas wilayah. Mempertahankan ruang hidup tidak hanya membutuhkan keberanian mengatakan tidak, tetapi juga alasan kuat mengapa tempat ini layak dicintai dan dijaga.

Hari Tani Nasional bagi masyarakat Pracimantoro tahun ini menjadi momentum menegaskan satu hal sederhana: pembangunan tidak boleh menjadikan petani sebagai pihak yang selalu dikalahkan. Kemajuan seharusnya memperkuat kehidupan masyarakat, bukan menghilangkan fondasi yang membuat kehidupan itu terus berlanjut dengan kearifan yang telah ada.

Bagi petani, mempertahankan tanah adalah cara memperjuangkan kemungkinan masa depan. Selama petani masih memiliki tanah, mereka masih memiliki pilihan untuk menanam, berproduksi, dan menentukan jalan hidup keluarganya sendiri. Tetapi ketika tanah itu hilang, pilihan tersebut ikut hilang.

Dan mungkin, di situlah makna terdalam Genduren Gunungsewu pada momentum Hari Tani Nasional ini: merayakan kehidupan bukan berarti menutup mata terhadap ancamannya. Bersyukur atas tanah yang memberi kehidupan juga berarti memiliki keberanian untuk menjaganya. Seni menjadi ruang untuk mengingat, genduren menjadi ruang untuk berkumpul, dan suara petani menjadi pengingat bahwa di balik setiap hamparan tanah terdapat kehidupan manusia yang sedang memperjuangkan masa depannya.

Dari Pracimantoro Wonogiri, suara itu kemudian bertemu dengan suara masyarakat dari berbagai penjuru Jawa Tengah. Karena menjaga ruang hidup bukan hanya persoalan satu desa atau satu kelompok masyarakat. Ia adalah bagian dari ikhtiar bersama agar pembangunan tetap memiliki manusia sebagai pusatnya, pemerintah hadir ketika masyarakat menghadapi persoalan wilayahnya, dan Hari Tani Nasional benar-benar menjadi momentum untuk memastikan bahwa petani masih memiliki tempat dalam masa depan Jawa Tengah.**Red

Iklan Penulis & Sponsor Pemerintah Kabupaten Blora - Dinas PMD Dirgahayu RI Ke-81

Rekomendasi Shopee Pilihan Redaksi

Diskon Spesial
Kamera Mirrorless 4K WiFi Ultra HD Kit Lensa
Kamera Mirrorless 4K WiFi Ultra HD Kit Lensa
Rp 3.499.000 Rp 5.200.000
Beli di Shopee
Smartphone 5G 8GB/256GB Baterai 6000mAh
Smartphone 5G 8GB/256GB Baterai 6000mAh
Rp 2.199.000 Rp 2.899.000
Beli di Shopee
Topik: #NASIONAL #infodesanews #kabarindonesia
Kabiro Blora

Kabiro Blora

Kepala Biro Blora

Koordinator pewarta dan liputan wilayah Blora, Sesarengan mBangun Blora, Jawa Tengah.

Redaksi Wilayah Terverifikasi Kominfo 593

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
6 + 8 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi