Senin, 9 November 2026
TERKINI
• Luwes Orange Run Meriahkan HUT ke-59 Luwes Grup di Blora (16 jam yang lalu) • Perkuat Sinergi Memajukan Pendidikan, FGM Jateng Gelar Silahturahmi Akbar (1 hari yang lalu) • Nasdem Salurkan Bantuan Air Bersih untuk Warga Desa Sukorejo di Tengah Kemarau Panjang (1 hari yang lalu) • Jangan Hanya Bicara Lampung Selatan Maju, Ismail Desak Perda Pesantren Segera Diparipurnakan (1 hari yang lalu) • Pemkab Blora Gandeng PT Agrinas Pangan Nusantara Kembangkan Kawasan Sentra Produksi Pangan (2 hari yang lalu) • Anggota Banggar, Agus Sartono Sentil Rekanan Tak Koordinasi dengan Camat, Dishub Diminta Tindak Overload (2 hari yang lalu) • Jenggis Khan Haikal Soroti Dampak Wacana Pengangkatan PPPK Paruh Waktu, Sekda Siap Koordinasikan ke Pusat (2 hari yang lalu) • LSM PRO RAKYAT Desak Green SM Disetop,Pembangunan Pool Way Halim Segera Disegel (2 hari yang lalu) • Bukan Sekadar Hiburan, Lamsel Fest 2026 Disiapkan Jadi Penggerak Ekonomi Daerah (2 hari yang lalu) • Parenting Akbar SMK Muhammadiyah 6 Gemolong Hadirkan Ustaz Pujiono, Perkuat Sinergi Orang Tua dan Sekolah dalam Mendidik Generasi Saleh (2 hari yang lalu)
INFODESA 13 Agustus 2026, 01:22 WIB 1,502 PDF

Komisi III Tak Mau Asal Setuju, Anggaran PUPR Dikuliti hingga Malam

Redaktur Lampung
Oleh: Redaktur Lampung • ~3 mnt baca
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Komisi III Tak Mau Asal Setuju, Anggaran PUPR Dikuliti hingga Malam
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / Redaktur Lampung

LAMPUNG SELATAN, INFODESANEWS — Pembahasan Kebijakan Umum Perubahan Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUPA-PPAS) Perubahan APBD Kabupaten Lampung Selatan Tahun Anggaran 2026 berlangsung hingga malam hari, Rabu (12/8/2026).

Komisi III DPRD Lampung Selatan bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) mengupas satu per satu program dan kebutuhan anggaran. Rapat dipimpin langsung Ketua Komisi III, Yuti Ramayanti.

Pembahasan tak sekadar mengejar angka, tetapi diarahkan pada penajaman prioritas belanja daerah, terutama memastikan anggaran untuk infrastruktur pelayanan dasar dapat memenuhi ketentuan mandatory spending.

Anggota Komisi III dari Fraksi Golkar, Derri Kusuma, menegaskan keterbatasan fiskal daerah menuntut pemerintah melakukan efisiensi secara lebih berani.

Menurutnya, belanja yang masih memungkinkan untuk ditekan, termasuk belanja barang dan jasa, perlu dievaluasi untuk membuka ruang fiskal yang kemudian diarahkan kepada belanja infrastruktur.

“Pada intinya kita melakukan pembahasan APBDP dengan beberapa dinas untuk memastikan program 2026, terutama belanja infrastruktur pelayanan dasar bisa memenuhi mandatory spending,” ujar Derri.

Ia menegaskan, Komisi III tidak ingin keterbatasan anggaran justru mengorbankan pembangunan yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.

“Mengurangi anggaran seperti di belanja barang dan jasa untuk dipindahkan ke belanja infrastruktur. Walaupun dengan keterbatasan anggaran, tetapi akan dimaksimalkan untuk belanja infrastruktur,” tegasnya.

Bukan Sekadar Geser Angka
Bagi Komisi III, perubahan APBD harus menjadi momentum untuk membedah kembali komposisi belanja daerah.

Anggaran yang kurang prioritas harus dipertimbangkan untuk dikurangi. Sebaliknya, program infrastruktur pelayanan dasar yang mendesak harus mendapatkan ruang lebih besar.

Terlebih sektor PUPR memiliki keterkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat, mulai dari jalan, jembatan, drainase hingga berbagai infrastruktur pelayanan dasar lainnya.

Karena itu, setiap usulan perubahan anggaran diminta memiliki argumentasi yang jelas, target yang terukur serta manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

“Jangan sampai kita hanya bicara berapa anggarannya. Yang lebih penting, apa hasilnya dan apa manfaatnya untuk masyarakat,” menjadi penekanan dalam pembahasan tersebut.

Pembahasan yang berlangsung hingga malam menunjukkan bahwa penajaman APBD Perubahan 2026 tidak dilakukan secara terburu-buru. Komisi III bersama OPD mencermati kembali program dan ruang efisiensi yang masih memungkinkan dilakukan.

Derri menegaskan, prinsipnya sederhana: kalau ada belanja yang bisa ditekan, tekan. Kalau ada kebutuhan infrastruktur yang mendesak, maksimalkan.

Sikap tersebut menjadi bagian dari upaya Komisi III memastikan APBD Perubahan 2026 tidak sekadar menjadi dokumen perubahan angka, tetapi benar-benar menjadi instrumen untuk memperkuat pembangunan pelayanan dasar.

Di tengah keterbatasan fiskal, Komisi III ingin memastikan uang rakyat ditempatkan pada kebutuhan yang paling prioritas—bukan habis untuk belanja yang manfaatnya tidak sebesar pembangunan infrastruktur.

Pembahasan hingga malam pun menjadi bukti bahwa penentuan prioritas anggaran tidak bisa dilakukan sekadar formalitas. Setiap rupiah harus dihitung, dipertanggungjawabkan dan dikembalikan manfaatnya kepada masyarakat Lampung Selatan. (Red)

Oleh: Redaktur Lampung

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Topik: #INFODESA #infodesanews #kabarindonesia
Redaktur Lampung
Jurnalis Terverifikasi Redaktur Wilayah Lampung

Redaktur Lampung

Pengelola rubrik liputan daerah Lampung, dinamika desa, dan pembangunan nusantara.

Redaksi Wilayah • Kominfo No. 593
Semua Berita Penulis Ini

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
6 + 3 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi