BLORA, INFODESANEWS – Suasana haru menyelimuti pelepasan dua warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Blora, Senin (1/9/2026). Kedua warga binaan yang dibebaskan bersyarat tersebut adalah Munaji dan Wahyu Prihyanti
Kepala Rutan Kelas IIB Blora, Sugito, S.H., menyampaikan bahwa pembebasan keduanya berdasarkan Surat Keputusan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Nomor PAS 1284 PK 0503 tanggal 14 Juli 2026.
“Kami mewakili keluarga besar Rutan Blora mengucapkan terima kasih kepada Mbah Moon (Munaji) dan Wahyu Prihyanti. Selama menjalani pidana, keduanya berkelakuan baik dan tidak pernah melakukan pelanggaran,” ujar Sugito.
Ia menambahkan, Munaji dan Wahyu Prihyanti aktif memberikan bimbingan kepada warga binaan lain serta mengikuti berbagai kegiatan pembinaan kepribadian dan kemandirian.
“Kami merasa kehilangan. Jasa-jasa mereka di rutan sangat banyak,” ungkapnya.
Sugito juga menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan petugas selama keduanya menjalani masa tahanan. Ia berpesan kepada seluruh masyarakat Blora untuk menjaga kebersamaan dan persaudaraan guna membangun Blora yang lebih baik.
“Kondusivitas di Rutan Blora tercipta dengan baik dan aman terkendali, berkat kebersamaan antara media, ormas, dan masyarakat,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Pemuda Pancasila (PP) Kabupaten Blora, Munaji, turut menyampaikan apresiasinya terhadap Kepala Rutan Blora. Menurutnya, Rutan Blora saat ini telah berubah menjadi lebih baik dengan kegiatan yang positif.
“Rutan Blora yang sekarang bukanlah yang dulu. Jangankan narkoba, arak saja tidak ada di dalam sini,” tegas Munaji disambut tepuk tangan hadirin.
Munaji mengakui kebersihan dan pembinaan di Rutan Blora istimewa serta bebas dari pungutan liar (pungli). Ia mendukung Rutan Blora sebagai rutan terbaik di Indonesia.
“Bapak Kepala Rutan adalah putra asli Blora. Saya percaya beliau mampu menakhodai rutan ini dengan baik. Ke depan, kami berharap putra daerah sendiri yang memimpin agar bersama-sama memajukan Blora,” tambahnya.
Munaji juga mengingatkan jajaran Pemuda Pancasila untuk terus menjaga kondusivitas dan loyalitas. Ia menekankan nilai persaudaraan tidak bisa diukur dengan uang.
“Saya ucapkan terima kasih atas loyalitas yang sudah tidak dipertanyakan lagi. Air putih saja kita datang semua. Setelah keluar dari rutan, kita tetap akan melakukan konsolidasi untuk membesarkan organisasi,” pungkasnya.
Acara pelepasan kemudian dilanjutkan dengan proses administrasi di Kejaksaan dan Pengadilan Negeri setempat.**Red