BLORA, INFODESANEWS – Bendahara Koperasi Blora Migas Energi (BME), Ahmad Hanafi, mengaku tidak mengetahui bentuk stempel koperasi yang mengelola sumur minyak rakyat di Kabupaten Blora.
Pengakuan itu disampaikannya saat menerima kedatangan tim Bareskrim Polri bersama rombongan dari Polda, Kementerian ESDM, dan Pertamina di Balai Desa Plantungan, Rabu (29/07/2026).
“Setelah ini saya dengan Mbah Tris (Sutrisno/ketua BME), haq lillah hita’ala (benar karena Allah), itu stempelnya tidak tahu. Bener nggak Mbah, stempel BME rupane pie mboten ngertos (bentuknya bagaimana tidak tahu),” ujar Hanafi di hadapan para tamu.
Hanafi menilai perlu adanya pembenahan koperasi. Ia bahkan berharap seluruh warga Desa Plantungan yang terlibat dalam aktivitas sumur minyak rakyat ikut menjadi anggota koperasi agar mendapat sisa hasil usaha (SHU).
Ia juga mengungkapkan bahwa hingga saat ini BME belum memiliki kantor. Bahkan belum ada nota kesepahaman (MoU) atau kerja sama antara BME dengan pihak desa maupun Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
“Kantor BME itu di atas bumi, di atas langit. Alias awang-awang (tidak ada). Di desa belum ada MoU dengan BME,” tegasnya.
Hanafi juga menyoroti tidak adanya Rapat Anggota Tahunan (RAT) dalam penetapan kepengurusan. “Kita ingin ada RAT, karena Mbah Tris ujuk-ujuk jadi ketua, ora ono RAT (Mbah Tris langsung jadi ketua tanpa RAT),” tambahnya.
Sementara itu, Ketua BME Sutrisno membenarkan bahwa dirinya ditunjuk sebagai ketua. Ia menjelaskan pembentukan koperasi tersebut sebagai sarana pengantaran minyak ke Pertamina yang telah ditentukan melalui surat keputusan bupati.
“Koperasi ini sebagai jembatan mengantar minyak ke Pertamina yang telah ditentukan melalui SK Bupati. Saya siap berbenah dan membenahi diri sesuai harapan mas Hanafi,” ujar Sutrisno.
Dalam kunjungan tersebut terungkap bahwa Desa Plantungan mampu memproduksi minyak hingga 25 ribu liter per hari dari 1.240 titik sumur rakyat, dengan potensi produksi 35 liter per titik per hari.
Sepanjang Juni 2026, BME mencatat minyak dari Desa Plantungan mencapai 380 ribu liter dengan total transaksi Rp2,8 miliar.**Red