BLORA, INFODESANEWS – Sebanyak 104 siswa SMAN 1 Tunjungan, Kabupaten Blora, mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin (7/9/2026). Para siswa mengeluhkan pusing, diare, dan muntah pada keesokan harinya, Selasa (8/9/2026).
Dari total 1.180 siswa penerima manfaat, sebanyak 104 siswa dilaporkan mengalami keluhan kesehatan dan mendapat pemeriksaan awal dari petugas puskesmas. Bahkan, total siswa yang tidak masuk sekolah akibat diare mencapai 137 orang, dengan 4 di antaranya harus dirujuk ke rumah sakit.
Kepala SMAN 1 Tunjungan, Yuni Ni’wati, mengungkapkan bahwa pihak sekolah mulai mencurigai adanya keracunan setelah mengetahui banyak siswa tidak hadir dengan alasan diare.
“Awalnya ada keluhan, kemudian wakil kepala sekolah men-tracking semua yang bergejala dan diminta ke ruang UKS,” ujar Yuni.
Menu MBG yang dikonsumsi siswa pada Senin siang sekitar pukul 11.30 WIB terdiri dari telur, brokoli, dan ayam. Ini merupakan kali pertama SMAN 1 Tunjungan menerima program MBG.
“Anak-anak merasa trauma dengan kejadian ini,” tambahnya.
Yuni Ni’wati memastikan bahwa hari ini pihak sekolah menolak menerima pasokan MBG.
“Untuk hari ini tidak menerima MBG. Sudah diolah. Siswa yang lain selain 137 orang Alhamdulillah baik-baik saja,” pungkasnya.
Kasus ini masih dalam penanganan Dinas Kesehatan setempat yang menunggu hasil uji laboratorium sampel makanan untuk memastikan penyebab pasti keracunan massal tersebut.
Sementara itu, Wakil Bupati Blora, Hj. Sri Setyorini, menegaskan bahwa Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukorejo 2 yang memasok makanan tersebut harus ditutup permanen. Ini bukan kali pertama SPPG tersebut bermasalah.
“Ini sudah dua kali kita peringatkan. Saya minta SPPG Sukorejo 2 ditutup permanen. Sudah tiga kali miss, sudah dua kali kita peringatkan,” tegas Sri Setyorini.
Ia juga meminta agar dana untuk 133 penerima manfaat dikembalikan dan pihak SPPG diminta menunjukkan bukti pengiriman.
“Kami mau tidak mau harus mengusulkan tutup. Dari Satgas saya minta tutup permanen,” lanjutnya.
Disisi lain, Koordinator Wilayah SPPG Blora, Artika Diannita, menjelaskan bahwa SPPG Sukorejo 2 sebelumnya pernah bermasalah terkait Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang mencemari lingkungan.
“Untuk kejadian fatal seperti ini, operasi langsung dihentikan. Kami akan melaporkan ke KPPG dan Dirtawas untuk mendapatkan tindakan dari pusat,” jelas Artika.
Ia mengakui bahwa pihaknya menginginkan penutupan permanen karena sudah beberapa kali menerima aduan terkait SPPG tersebut.
“Seharusnya sih ditutup saja, karena sudah beberapa kali ada aduan,” ujarnya.**Red