BLORA, INFODESANEWS – Dalam rangka menyambut Hari Pers Nasional 2026, suara kritis menggema menilai peran pers di era modern. Grek, aktivis dari Front Blora Selatan, menyampaikan kritik tajam bahwa banyak media telah kehilangan fungsinya sebagai pengawal kedaulatan rakyat.
“Media yang seharusnya menjadi pengawal kedaulatan rakyat kini terlalu sering menjadi corong kekuasaan dan pesanan oligarki,” tegas Grek.
Menurutnya, alih-alih melindungi kepentingan publik, banyak media justru menyalurkan narasi yang menguntungkan segelintir elit politik dan bisnis.
Grek mengungkapkan kekhawatiran bahwa dalam banjir kepentingan pemilik modal dan kekuasaan, pers yang idealis dan benar-benar berpihak pada rakyat menjadi semakin langka.
“Tanpa pers seperti itu, masyarakat hanya akan mendengar gema kepentingan segelintir elit, bukan fakta yang menyelamatkan hidup mereka,” ujarnya.
Dampaknya, adalah kebingungan publik. Berita yang nyaman bagi penguasa kerap dijual sebagai fakta, sementara suara rakyat yang tertindas tenggelam dalam informasi yang bias. Situasi ini, menurutnya, menggerus demokrasi dan mengubah rakyat menjadi ‘boneka opini’.
“Aktivisme pers itu brutal,” kata Grek dengan penuh semangat. Ia mendefinisikan pers sejati sebagai senjata untuk menantang ketidakadilan dan pengawal rakyat, bukan pengawal elit.
“Jika media takut bersuara, masyarakat yang rugi. Jika rakyat diam, ketidakadilan menang,” terangnya.
Di momentum Hari Pers Nasional ini, Grek menyampaikan pesan dan seruan Selamat Hari Pers Nasional! Ingat, pers yang berpihak pada rakyat bukan sekadar slogan. Jadilah mata yang menembus kebohongan, telinga yang mendengar suara rakyat yang tertindas, dan suara yang menjerit melawan ketidakadilan.
Narasi yang disampaikan Grek menegaskan satu hal: tanpa keberanian dan idealisme, pers tidak dapat menjalankan perannya sebagai benteng terakhir rakyat dalam menghadapi gelombang ketidakadilan yang mungkin dikendalikan oleh segelintir kepentingan.**Red