BLORA, INFODESANEWS – Kasus dugaan penipuan investasi dengan modus perputaran modal jangka pendek mencuat ke publik setelah sejumlah korban mengaku mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah, yang berdampak langsung pada kondisi ekonomi keluarga menjelang Hari Raya.
Salah satu korban, Yni (78th), mengungkapkan kepada Infodesanews bahwa sebagian besar korban sebenarnya bersedia untuk bersuara dan kasus ini dipublikasikan. Namun, kondisi finansial mereka kini sangat memprihatinkan.
Kasus ini diduga melibatkan seorang perempuan berinisial W.A. yang menawarkan kerja sama investasi dengan imimg iming perputaran modal cepat disertai janji keuntungan.
“Korban lain sudah saya hubungi, banyak yang setuju dimuat. Tapi jujur, kami semua sudah tidak punya uang. Uang kami sudah dikuras penipu. Kalau cuma satu sampai sepuluh juta mungkin tidak terlalu terpukul, ini ratusan juta,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kerugian yang dialaminya mencapai sekitar Rp140 juta. Bahkan, demi menutup kebutuhan dan membayar utang akibat penipuan tersebut, ia terpaksa menggadaikan mobil miliknya.
“Mobil Avanza saya sampai saya gadaikan untuk bayar hutang karena ditipu,” tambahnya.
Tak hanya Yni (78th), korban lain disebut mengalami kerugian yang lebih besar. Ada korban yang mencapai Rp750 juta, bahkan dalam kondisi usia lanjut. Korban tersebut sebelumnya menaruh kepercayaan penuh kepada terduga pelaku.
“Ada yang sampai Rp750 juta, sudah tua. Dia menganggap pelaku seperti anak sendiri, tapi ternyata malah dikhianati,” katanya.
Yni juga menyebut, terdapat korban lain yang mengalami kerugian sekitar Rp110 juta. Namun, korban tersebut memilih tidak tampil karena khawatir akan muncul persoalan baru jika kasus ini dipublikasikan.
Lebih lanjut, para korban sempat berupaya melakukan pemblokiran rekening pelaku dengan mendatangi sejumlah bank, namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena rekening pelaku diduga menggunakan layanan bank digital.
“Kami sudah ke bank untuk blokir, tapi tidak bisa karena rekeningnya di Bank ,” jelasnya.
Para korban mengaku sangat terpukul karena uang yang digunakan merupakan tabungan untuk kebutuhan penting, termasuk rencana membeli rumah. Kini, menjelang Hari Raya, mereka justru harus menghadapi tekanan ekonomi akibat ulah pelaku.
Para korban berharap permasalahan ini masih dapat diselesaikan secara baik melalui jalur damai. Mereka membuka ruang komunikasi kepada pihak terduga pelaku untuk menunjukkan itikad baik sebelum langkah hukum lebih lanjut ditempuh. Namun demikian, apabila tidak ada penyelesaian, korban menegaskan akan menyerahkan sepenuhnya proses ini kepada aparat penegak hukum..**Red.