SULSEL, INFODESANEWS - Survei akreditasi Rumah Sakit Elim Rantepao oleh Lembaga Akreditasi Fasilitas Kesehatan Indonesia (LAFKI) resmi ditutup setelah berlangsung selama dua hari.
Kegiatan tersebut digelar di Aula Lantai 3, berjalan lancar dan mendapat sejumlah catatan serta masukan untuk pengembangan mutu pelayanan rumah sakit.
Ketua Umum Badan Pengurus LAFKI, dr. Benny H. Tumbelaka, Sp. OT., M. H. Kes., Sp. KP., MARS., FIHFAA, mengatakan RS Elim Rantepao memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan ke depan, Senin 21 September 2026.
Menurutnya, salah satu potensi tersebut adalah menjadikan RS Elim Rantepao sebagai rumah sakit pendidikan.
"Jadi, yang kami lihat selama dua hari itu, rumah sakit ini potensinya banyak sekali. Antara lain yang bisa dikembangkan sebagai rumah sakit pendidikan karena banyak dokter spesialisnya, kemudian kasusnya juga banyak, sehingga cocok dikembangkan sebagai rumah sakit pendidikan," sebut dr. Benny saat penutupan survei akreditasi.
Selain rumah sakit pendidikan, ia melihat peluang pengembangan RS Elim Rantepao sebagai rumah sakit berbasis medical tourism.
Menurut dr. Benny, potensi pariwisata Toraja yang telah dikenal luas dapat dipadukan dengan pelayanan kesehatan yang memadai sehingga menjadi daya tarik bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
"Kemudian yang kedua, rumah sakit tourism. Untuk rumah sakit tourism itu perlu inovasi-inovasi yang menarik para wisatawan mancanegara," ujarnya.
Ia menjelaskan, Toraja memiliki daya tarik wisata yang kuat. Potensi tersebut, menurutnya, dapat dikembangkan bersamaan dengan pelayanan kesehatan.
"Toraja itu sudah mendunia, bukan nasional saja. Kalau diramu dengan pelayanan kesehatan yang memadai seperti yang sudah dilakukan di sini, kita bisa mengajak turis-turis domestik maupun turis mancanegara untuk berobat ke sini sambil mereka menikmati, atau keluarganya menikmati, keindahan di sini," jelasnya.
Potensi lain yang juga disoroti adalah pengembangan herbal lokal Toraja.
Dr. Benny menilai kekayaan herbal yang terdapat di Toraja memiliki peluang untuk dikembangkan seiring dengan semakin berkembangnya pemanfaatan herbal dalam bidang kesehatan.
"Herbal yang ada di sini banyak, saat ini herbal terus dikembangkan, termasuk oleh Prof. dr. Taruna Ikrar, M. Biomed., Ph. D Kepala BPOM RI. Dengan hal-hal tersebut, potensial untuk dikembangkan.
Dan mengembangkannya itu dapat menambah kekayaan atau modal Toraja ini, termasuk RS Elim Rantepao untuk dikembangkan," ujarnya.
Akreditasi Tidak Berhenti pada Predikat
Terkait status akreditasi, dr. Benny menjelaskan bahwa RS Elim Rantepao sebelumnya telah memperoleh predikat paripurna.
Namun, menurutnya, mekanisme penilaian mutu rumah sakit saat ini juga berkaitan dengan proses verifikasi oleh Kementerian Kesehatan, khususnya terkait mutu pelayanan dan program nasional.
"Akreditasi RS Elim Rantepao yang lalu sudah paripurna. Tetapi sekarang untuk masalah paripurna dan tidak, ada hal yang baru, yaitu verifikasi dari Kementerian Kesehatan untuk masalah mutu dan program nasional," jelasnya.
Ia mengatakan, meskipun sebuah rumah sakit telah memperoleh predikat paripurna dari lembaga akreditasi, hasil tersebut tetap akan diverifikasi berdasarkan laporan mutu dan pemenuhan program nasional yang ditetapkan Kementerian Kesehatan.
Sementara itu, Ketua Yayasan Kesehatan Gereja Toraja (YKGT), Dr. dr. Heber Bombang Sapan, Sp. B Subsp. BD (K), memberikan apresiasi terhadap proses survei akreditasi yang dilakukan tim LAFKI.
Ia menilai persiapan RS Elim Rantepao, mulai dari materi hingga upaya membangun budaya kerja sesuai standar yang ditetapkan, telah berjalan dengan baik.
"Saya kira akreditasi RS Elim Rantepao dari tim sangat luar biasa, mulai dari penyiapan materi dan bagaimana membudayakan budaya kerja yang sesuai dengan standar-standar yang sudah ditetapkan dalam elemen penilaian. Saya kira sudah cukup luar biasa," katanya.
Ia berharap hasil dan masukan dari proses akreditasi tersebut dapat terus diterapkan dalam pelayanan sehari-hari.
"Saya berharap, dari saat ke saat hal itu bisa diimplementasikan dalam setiap kehidupan pelayanan. Dan kita berharap dengan akreditasi ini merupakan langkah untuk mempersiapkan Rumah Sakit Elim Rantepao sebagai rumah sakit basis pendidikan," kuncinya.
Akreditasi Dijalani dengan Sukacita
Ketua Tim Akreditasi RS Elim Rantepao, dr. Imanuela Melisa Pongbulan, mengungkapkan rasa syukur atas selesainya seluruh rangkaian survei akreditasi.
" Pujii Tuhan, selama dua hari ini kami sudah menjalaninya. Sesuai arahan Pak Ketua, akreditasi ini akan dijalani dengan sukacita," ungkapnya.
Menurutnya, akreditasi selama ini kerap dipandang sebagai proses yang menegangkan. Namun, sejak technical meeting, tim LAFKI telah memberikan pemahaman bahwa proses akreditasi harus dijalani dengan suasana positif.
"Biasanya kalau mendengar tentang akreditasi itu orang-orang akan deg-degan, kesannya horor. Tapi sejak technical meeting, dokter Benny selaku Ketua Umum LAFKI sudah menjelaskan dan menyampaikan bahwa akreditasinya harus berjalan dengan sukacita," jelas dr. Imanuela yang juga merupakan dokter umum di RS Elim Rantepao.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada tim surveyor LAFKI atas berbagai temuan, koreksi, dan dokumentasi yang diberikan selama proses survei.
"Kami berterima kasih atas beberapa temuan-temuan, koreksi-koreksi dan dokumentasi dari tim surveyor untuk memperbaiki pelayanan di Rumah Sakit Elim Rantepao," katanya.
Ia menjelaskan, tim internal RS Elim Rantepao yang terlibat dalam proses akreditasi berjumlah sekitar 70 orang dan terbagi dalam dua kelompok, yakni kelompok pelayanan dan kelompok manajemen.
"Dan kami ada sekitar 70 orang dalam satu tim, terbagi menjadi dua kelompok, pelayanan dan manajemen, dan semuanya berjalan dengan baik. Kami semua bersyukur sehat-sehat walaupun ada yang mulai tumbang, tetapi karena kerja sama yang baik sampai kami bisa melalui hari kedua ini," pungkasnya.
Dalam kegiatan penutupan survei akreditasi tersebut turut hadir Pengurus LAFKI dr. Ardin Sani, M. Kes., FIHFAA, Direktur Utama RS Elim Rantepao dr. Adrian Benedict Wijaya, dr. Budhi Karoma, Sp. M yang juga Sekretaris YKGT, jajaran pengurus YKGT, para dokter, serta tenaga medis dan nonmedis RS Elim Rantepao.**Benny/Yustus