Jumat, 25 September 2026
TERKINI
• Hasil Lab Kasus MBG Blora Berbeda dengan Keterangan Dinkes, Bacillus cereus Dipertanyakan (1 jam yang lalu) • 17 Desa Wilayah Lamsel Bakal Mengikuti Penilaian Desa Antikorupsi Tingkat Provinsi (4 jam yang lalu) • Kodim 0721/Blora dan BAZNAS Bedah Dua Rumah Warga Sambut HUT ke-81 TNI (7 jam yang lalu) • Fly Jaya Buka Rute Penerbangan Reguler Masamba-Makassar Segera Mengudara (8 jam yang lalu) • Ketum LAFKI dr Benny, Dorong RS Elim Rantepao Dikembangkan sebagai Rumah Sakit Pendidikan (8 jam yang lalu) • SDN 1 Plosarjo Terima Bantuan Revitalisasi, Kelas Rusak Kini Siap Jadi Ruang Belajar Nyaman (8 jam yang lalu) • Perkuat Kelembagaan dan Kolaborasi, PWI Sulsel Silaturahmi ke Bank Mandiri (9 jam yang lalu) • Dua Bulan Hampir Berlalu, RDP Limbah PT Ciomas Belum Terwujud, Ada Apa? (23 jam yang lalu) • Geothermal Rajabasa Ditolak Masyarakat, DPRD Siap Teruskan Aspirasi hingga ke Pemerintah Berwenang (1 hari yang lalu) • Bupati Banyumas Dukung GreenMu, Dorong Pengelolaan Sampah Bernilai Ekonomi (1 hari yang lalu)
NASIONAL 27 Januari 2019, 16:29 WIB 2,100 kali dibaca ~3 mnt baca Bukti Tayang (PDF)

Ketua Pagar Nusa Semarang; Pendekar Pesantren Amankan Aset NU

Penulis: Redaksi
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Ketua Pagar Nusa Semarang; Pendekar Pesantren Amankan Aset NU
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / Redaksi

SEMARANG, INFODESANEWS – Ketua Pencak Silat Nahdlatu Ulama (PSNU) Pagar Nusa (PN) Kota Semarang menyatakan para pendekar dari berbagai pesantren memiliki peran penting dalam mengamankan aset NU. Aset dimaksud dalam hal ini adalah para Kiai dan Ulama NU

“Para pendekar dari pesantren-pesantren mengamankan asset NU, para Kiai para masyayikh,” kata Lukman disela kegiatan Pencak Dor yang digelar Lapangan Tugu, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, Ahad (27/1/2019), “karena Pagar Nusa itu pagarnya NU dan bangsa,” imbuhnya.

Lukman menerangkan, secara jumlah para pendekar yang ada memang sengaja tidak banyak disebut jumlahnya dan jarang atau bahkan tidak terpublikasikan. Namun demikian eksistensi pendekar PN banyak tersebar di pesantren dan badan otonom (Banom) NU.

“Pagar Nusa ini tetap eksis dan menjadi senjata andalan setelah Banser. Selain melatih Banser, ada pula pendekar yang menjadi anggota Banser, dan Banom NU lain,” terangnya. Terkait atraksi berbahaya, Lukman menekankan hal tersebut suatu yang biasa, “Bukan kita sombong, kita pernah main yang lebih bahaya dari yang ditunjukkan,” ujarnya.

Peserta Membludak
Pencak Dor sebagai tradisi dalam perhelatan sabung antar pesilat tak banyak diketahui masyarakat Jawa Tengah. Oleh karena itu, Lukman mengungkapkan even Pencak Dor yang diselenggarakan PSNU Pagar Nusa Kota Semarang mendapat respon positif dari para pesilat NU yang bernaung dalam Pagar Nusa.

“Alhamdulillah ada ratusan peserta,” kata Lukman, “Kepesertaan ini memiliki kualifikasi tersendiri. Minimal 17 tahun, ada dokter dan ambulans untuk menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan. Untuk lebih jelasnya bisa konformasi pada ketua panitia,” tuturnya.

Selain para pesilat PN, Lukman mengakui ada pesilat lain yang tertarik ikut serta. Atas berbagai pertimbangan terhadap kondisi yang ada, ia tegaskan saat ini hanya diperuntukkan pesilat PN

“Peserta hanya Pagar Nusa. Takutnya tidak paham dengan yang ada di pagar nusa. Ini tradisi pagar nusa,” tegasnya. “Ke depan kita akan evaluasi kepesertaan ini. Kalau memang animonya luar biasa akan kita buat semacam MMA,” tandasnya.

Terkait dengan keamanan acara, pihaknya menegaskan selalu berkoordinasi dengan TNI/POLRI untuk selalu menjaga kondisifitas dan keamanan NKRI.

Kejelasan tentang jumlah peserta ditegaskan ketua panitia Sulistya. Terkait dengan berbagai persiapan, event tersebut hanya diberlakukan untuk pesilat PN dengan jumlah ratusan peserta yang naik ring bambu. Antusias Pencak Dor dapat dilihat dari banyaknya peserta luar Kota Semarang. Disebutkan dari Kediri dan Nganjuk, Jawa Timur, Kabupaten Semarang, Demak, Kudus, Pati, Rembang, Grobogan, Banyumas, Purwokerto, Jepara, Kendal, Batang, dan Pekalongan. Sedangkan untuk peserta dari Kota Semarang juga diikuti pesilat PN pondok pesantren, dan perguruan tinggi.

Nur Rohmad, misalkan. Mahasiwa Fakultas Teknik Mesin, Universitas Wahid Hasyim Semarang ini menyatakan Pencak Dor sebagai ajang duel antar pendekar yang menarik. Di atas ring menjadi lawan, dan keluar ring tetap bersaudara.

“Menyenangkan, asik untuk menguji seberapa kuat mental kita,” kata dia saat diwawancarai seusai menuntaskan duel serunya. (Rifqi)

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Iklan Penulis & Sponsor Space Iklan Disewakan - Hubungi Redaksi

Rekomendasi Shopee Pilihan Redaksi

Diskon Spesial
Topik: #NASIONAL #infodesanews #kabarindonesia
Redaksi Infodesanews

Redaksi Infodesanews

Redaksi Pelaksana & Admin

Dewan Redaksi Pusat INFODESANEWS Bersama Membangun Indonesia.

Redaksi Wilayah • Terverifikasi Kominfo 593

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
7 + 7 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi