Ribuan wisatawan yang datang ke Dieng saat Dieng Culture Festival (DCF) bukan hanya membawa antusiasme untuk menyaksikan tradisi dan pertunjukan budaya, tetapi juga menghadirkan peluang ekonomi bagi masyarakat Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Di tengah ramainya festival, pedagang makanan, pemilik homestay, penyedia transportasi, penjual oleh-oleh, dan pelaku ekonomi kreatif berkesempatan menjangkau lebih banyak pelanggan. Uang yang dibelanjakan pengunjung dapat mengalir ke berbagai usaha lokal dan menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat.
Namun, keramaian belum tentu berarti seluruh masyarakat memperoleh manfaat yang sama. Besarnya jumlah pengunjung dan perputaran uang memang menunjukkan daya tarik DCF, tetapi belum cukup untuk menjelaskan berapa banyak pendapatan yang benar-benar diterima pelaku usaha lokal. Karena itu, DCF perlu dilihat bukan hanya sebagai perayaan budaya dan pariwisata, melainkan juga sebagai kesempatan untuk memperkuat ekonomi masyarakat secara lebih merata dan berkelanjutan.
Dampak Ekonomi
Terlihat dari besarnya aktivitas yang menyertai penyelenggaraan acara tersebut. Pemerintah Kabupaten Banjarnegara menyampaikan bahwa perputaran uang pada penyelenggaraan sebelumnya mencapai sekitar Rp50 miliar berdasarkan rilis Bank Indonesia. Sementara itu, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan memperkirakan lebih dari 15.000 orang mengunjungi kawasan Dieng selama DCF XXVI pada 28–30 Agustus 2026, sementara di 2025 adalah sekitar 20.000 pengunjung. Angka tersebut menunjukkan besarnya daya tarik festival, meskipun perkiraan jumlah pengunjung tidak dengan sendirinya menjelaskan berapa besar pendapatan bersih yang diterima setiap pelaku usaha lokal.
Bagi pedagang makanan, pemilik homestay, penyedia transportasi, penjual suvenir, dan pelaku ekonomi kreatif, meningkatnya kunjungan dapat membuka kesempatan untuk memperoleh pelanggan baru. Pengunjung juga berpotensi mengenal produk lokal yang mungkin kemudian dibeli kembali di luar periode festival. Dengan demikian, manfaat dari acara tersebut tidak seharusnya hanya diukur dari keramaian selama acara, tetapi juga dari peluang yang tercipta bagi usaha masyarakat setelah festival berakhir.
Dalam perspektif Economic Base Theory, pertumbuhan ekonomi suatu wilayah dapat didorong oleh kegiatan yang mendatangkan permintaan dari luar wilayah tersebut. Pariwisata dapat berperan sebagai salah satu kegiatan penggerak ketika pengeluaran wisatawan mengalir ke usaha dan pekerja lokal. Uang yang dibelanjakan wisatawan di Dieng dapat menjadi pendapatan bagi pedagang, pengelola penginapan, pekerja, pemasok bahan makanan, serta penyedia jasa lain. Sebagian pendapatan itu kemudian dibelanjakan kembali di wilayah setempat sehingga berpotensi menciptakan efek lanjutan bagi perekonomian lokal.
Namun, manfaat tersebut tidak terjadi secara otomatis dan tidak selalu terbagi secara merata. Sebagian usaha mungkin memperoleh kenaikan penjualan yang besar, sedangkan usaha lain tidak berada di jalur utama wisatawan atau tidak memiliki kapasitas untuk memenuhi lonjakan permintaan. Pelaku usaha dari luar daerah juga dapat mengambil sebagian peluang ekonomi. Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya berapa besar uang yang berputar, tetapi juga siapa yang memperoleh manfaat, berapa banyak nilai ekonomi yang bertahan di Banjarnegara, dan bagaimana masyarakat lokal dapat ikut mengambil bagian secara lebih luas.
Pengelolaan transportasi dan parkir menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pengalaman wisatawan sekaligus kegiatan ekonomi masyarakat. Menjelang acara Dieng Culture Festival 2026, Dinas Perhubungan Kabupaten Banjarnegara mengumumkan penyediaan 40 kantong parkir resmi dengan kapasitas gabungan 1.331 mobil dan 6.845 sepeda motor. Penyediaan lokasi parkir menunjukkan adanya upaya mengantisipasi peningkatan mobilitas selama festival. Akan tetapi, penyediaan fasilitas perlu disertai informasi yang mudah dipahami, petunjuk arah yang jelas, pengawasan tarif, serta koordinasi petugas di lapangan.
Persoalan pelayanan parkir juga sempat menjadi perhatian publik sebelum festival. Pemerintah Kabupaten Banjarnegara menyatakan bahwa Dinas Perhubungan menindaklanjuti video yang memperlihatkan wisatawan diminta membayar parkir saat kendaraannya hanya berputar balik di kawasan Dieng. Pihak dinas mendatangi lokasi dan menerbitkan teguran kepada pengelola serta juru parkir yang bersangkutan. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa persoalan pelayanan yang tampak kecil dapat memengaruhi rasa nyaman dan kepercayaan pengunjung terhadap destinasi wisata.
Bagi kawasan yang mengandalkan kunjungan wisata, kenyamanan merupakan bagian dari kualitas produk pariwisata itu sendiri. Pengunjung yang merasa kesulitan mencari tempat parkir, tidak memperoleh informasi tarif dengan jelas, atau mengalami pelayanan yang tidak memuaskan dapat membawa kesan negatif setelah pulang. Sebaliknya, tata kelola yang tertib membantu wisatawan menikmati acara dan memberi ruang bagi kegiatan usaha untuk berjalan dengan lebih lancar. Pengelolaan yang baik juga penting bagi warga setempat agar mobilitas sehari-hari dan akses terhadap layanan dasar tidak terlalu terganggu selama festival.
Oleh Karena Itu
Evaluasi DCF sebaiknya tidak hanya berfokus pada jumlah pengunjung dan perkiraan perputaran uang. Pemerintah daerah dan penyelenggara dapat menilai sebaran pengunjung, keterlibatan usaha lokal, kondisi lalu lintas, kebersihan kawasan, pengelolaan sampah, serta keluhan wisatawan. Data sederhana seperti jumlah UMKM yang berpartisipasi, asal pelaku usaha, jenis produk yang terjual, dan hasil survei kepuasan pengunjung dapat membantu menunjukkan apakah manfaat festival menjangkau masyarakat secara luas.
Peluang ekonomi lokal juga dapat diperkuat melalui pendampingan UMKM sebelum acara. Informasi mengenai lokasi berjualan, standar harga, pembayaran digital, kemasan produk, promosi daring, dan pengelolaan stok dapat membantu pelaku usaha memanfaatkan lonjakan permintaan. Setelah festival, promosi produk lokal melalui kanal digital dan kerja sama dengan pelaku wisata dapat menjaga hubungan dengan pelanggan baru. Dengan cara ini, DCF tidak hanya menjadi kesempatan berjualan selama beberapa hari, tetapi juga pintu masuk bagi pengembangan usaha yang lebih berkelanjutan.
Pada akhirnya, keberhasilan Dieng Culture Festival tidak cukup dinilai dari ramainya pengunjung atau besarnya angka perputaran uang. Ukuran yang lebih bermakna adalah sejauh mana kegiatan tersebut mendukung usaha masyarakat, memperluas kesempatan kerja, menjaga kelestarian budaya, dan tetap memberikan pengalaman yang baik bagi wisatawan serta warga. DCF memiliki potensi untuk memperkuat ekonomi Banjarnegara, tetapi potensi itu perlu didukung tata kelola yang transparan, pelayanan yang konsisten, dan evaluasi yang menggunakan data. Dengan demikian, harmoni antara budaya, pariwisata, dan ekonomi lokal tidak berhenti sebagai tema festival, melainkan tercermin dalam manfaat yang dirasakan masyarakat Dieng.