Selasa, 29 September 2026
TERKINI
• Musrenbangdes Tahun 2027, Pemerintah Desa Sumber Jaya Berharap Pemkab Lamsel Bangun Jalan Tapip. (1 jam yang lalu) • Musrenbangdes Tahun 2027 Di Desa Margodadi, Noven Fahri Paparkan Pembangunan Di Tahun 2026 (1 jam yang lalu) • Musrenbangdes Tahun 2027 Di Desa Sinar Rejeki, Prioritaskan Pembangunan Jalan Poros Penghubung (1 jam yang lalu) • Sorotan Material Drainase P. Singkep 7, Konsultan: Jangan Nilai Hanya dari Tampilan (9 jam yang lalu) • Pemerintah Desa Purwotani Menggelar Rencana Pembangunan Desa Tahun 2027 (11 jam yang lalu) • Musrenbangdes Tahun 2027 Desa Sidoharjo, Mencapai Pajak Tertinggi Di Triwulan III (12 jam yang lalu) • Pemerintah Desa Karang Rejo Gelar Musrenbangdes Tahun 2027 (13 jam yang lalu) • Bukan Sekadar Administrasi, Inspektorat Awasi Program Pemkab Lamsel hingga Manfaat ke Masyarakat (16 jam yang lalu) • Peringati Hari Jadi Tenggarong, Dandim 0906/Kkr Bersama Forkopimda Ziarah Makam Raja-Raja (18 jam yang lalu) • Dandim 0906/Kkr Hadiri Acara Puncak Prosesi Penutupan Erau (18 jam yang lalu)
INFODESA 10 November 2018, 07:10 WIB 1,448 PDF

Dewan Kakao Indonesia: Indonesia Devisit Kakao

Redaksi Infodesanews
Oleh: Redaksi • ~3 mnt baca
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Dewan Kakao Indonesia: Indonesia Devisit Kakao
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / Redaksi

JEMBER, INFODESANEWS –  Prof. Yuli Hariyati peneliti Universitas Jember yang memberikan perhatian pada bidang penelitian Kakao mengaku prihatin dengan kondisi petani Kakao Rakyat. Berdasarkan penelitian yang dia lakukan bersama team Cocoa Inovations and Development Research Group (COINDEV) Universitas Jember, para petani kakao rakyat masih jauh dari hidup sejahtera. Padahal menurutnya biji Kakao merupakan salah satu komoditas eksport dunia.

“Kami sangat mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh para petani kakao rakyat. Karena menurut saya mereka adalah salah satu pejuang devisa yang sesungguhnya. Namun sayangnya mereka justeru belum begitu menikmati apa yang mereka usahakan. Bahkan mereka banyak yang belum pernah minum coklat ataupun mengkonsumsi produk olahan Kakao lainnya seperti coklat yang sering kita nikmati,” kata Prof. Yuli Hariyati dalam acara Cocoa Inovation Gathering di Gedung Kantor Pusat Universitas Jemberm, (2/11).

Dalam acara yang dihadiri oleh para pegiat Kako, peneliti, pemerintah dan petani ini Yuli mengatakan, selama ini COINDEV terus melakukan pendampingan kepada para petani Kakao rakyat. Karena menurutnya, perlu dilakukan pembinaan yang serius agar Kakao yang mereka tanam bisa memberikan peningkakan kesejahteraan ekonomi para petani.

“Bisa jadi ini karena proses dalam perawatan tanaman yang salah sehingga buah yang dihasilkan tidak begitu banyak. Atau bisa juga karena proses pengolahan biji kakao tidak ditangani secara serius sehingga harganya tidak begitu bagus karena kualitas yang rendah. Oleh karena itu kami perlu berikan pendampingan kepada mereka mulai proses tanam hingga proses pemasaran,” lanjut Yuli.

Sementara itu Dr. Ir. Soetanto Abdullah Director of Indonesian Cocoa Board mengatakan, potensi ekonomi Kakao sangat besar. Menurut Tanto, pertumbuhan permintaan terhadap bahan baku berupa biji Kakao berbanding terbalik dengan ketersedian biji Kakao yang diahasilkan oleh petani.

“Setiap tahun di Indonesia terjadi devisit biji Kakao. Pada periode 2015 kapasitas produksi sebanyak 320 ton namun kebutuhannya mencapai 382 ton. Tahun 2016 kapasitas produksi Kakao Indonesia menurun menjadi 290 ton namun kebutuhan biji naik menjadi 455 ton dan pada tahun 2017 lalu hanya dihasilkan 260 ton sedangkan kebutuhan mencapai 476 ton,” papar Tanto.

Lebih jauh Tanto menjelaskan, terjadinya penurunan produksi kakao di Indonesia disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya adalah terjadinya degradasi kesuburan tanah pada lahan Kakao. Usia tanaman Kakao yang ada saat ini pun sudah cukup tua.

“Usia tanaman Kakao kita sudah mencapai 30 tahunan padahal usia produsktifnya hanya kisaran 20-25 tahun saja. Sayangnya hingga saat ini belum ada upaya yang kuat yang dilakukan pemerinta untuk meningkatkan luasan lahan pertanian kakao yang setiap tahun terus mengalami penurunan,” jelas Tanto.

Oleh karena itu menurut Tanto, untuk memenuhi kebutuhan biji Kakao yang setiap tahun semakin meningkat harus melalui mekanisme import. Oleh karena itu menurutnya, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan luasan lahan kakao rakyat.

“Namun walaupun peotensi ekonominya besar tantangannya adalah saat ini terjadi perubahan iklim yang tentunya dapat mengganggu produktifitas tanaman,   suhu semakin naik curah hujan semakin sedikit. hama dan penyakit juga menjadi ancaman bagi petani,” pungkas Tanto.(moen/ahm/ich)

Oleh: Redaksi

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Topik: #INFODESA #infodesanews #kabarindonesia
Redaksi Infodesanews
Jurnalis Terverifikasi Redaksi Pelaksana & Admin

Redaksi Infodesanews

Dewan Redaksi Pusat INFODESANEWS Bersama Membangun Indonesia.

Redaksi Wilayah • Kominfo No. 593
Semua Berita Penulis Ini

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
7 + 1 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi