Selasa, 13 Oktober 2026
TERKINI
• Dari Surga Mei–September hingga Badai Januari: Menjaga Roda Ekonomi Karimunjawa Tetap Berputar Sepanjang Tahun (42 menit yang lalu) • Pemkab Blora Teken Perjanjian Pengelolaan Pasar Ngawen, Pedagang Dijadwalkan Kembali 30 Oktober 2026 (1 jam yang lalu) • 449 Prajurit Yonif 410/Alugoro Kembali ke Blora, Satu Gugur di Papua (2 jam yang lalu) • Ratusan Personel GRIB Jaya Blora Gelar Aksi Damai, Tuntut Transparansi Lelang Jaminan di PNM (6 jam yang lalu) • Grib dan PP Blora Kawal Penyelesaian Sengketa Lelang PNM, Debitur Bakal Terima Pengembalian (8 jam yang lalu) • Antikorupsi Jangan Berhenti di Aula, Pemkab Lamsel Ditantang Buktikan Pelayanan Bersih (11 jam yang lalu) • Revitalisasi SDN 2 Andongrejo Blora Rampung, Siswa Kini Belajar Lebih Nyaman (13 jam yang lalu) • Bupati Blora Dorong BPD Perkuat Pengawasan dan Sinergi dengan Pemerintah Desa (16 jam yang lalu) • HIPMI Blora Siap Pindah Kantor, Hadirkan Sekretariat Bersama dan Coffee Shop Modern (1 hari yang lalu) • Perpanjangan Masa Jabatan Kades Masih Wacana, Pilkades Lamsel Belum Punya Jadwal (1 hari yang lalu)
Advertorial / Sponsor hut tni
OPINI • 2 Menit Baca

Pancasila Dikumandangkan, Keadilan Dipertanyakan

Sugeng
01 Oktober 2026, 07:39 WIB • Nasional

Abstrak / Sinopsis Eksekutif

“OPINI, INFODESANEWS — Pancasila kembali memenuhi ruang publik setiap 1 Oktober. Spanduk dipasang, ucapan bertebaran, upacara digelar, dan kata "Kesaktian Pancas...”

Pancasila Dikumandangkan, Keadilan Dipertanyakan

OPINI, INFODESANEWS — Pancasila kembali memenuhi ruang publik setiap 1 Oktober. Spanduk dipasang, ucapan bertebaran, upacara digelar, dan kata "Kesaktian Pancasila" kembali terdengar dari berbagai sudut negeri.

Tetapi setelah seremoni selesai, pertanyaan yang lebih penting justru dimulai: Apakah Pancasila benar-benar sakti ketika berhadapan dengan realitas rakyat?

Sebab kesaktian Pancasila tidak pernah diukur dari seberapa banyak spanduk yang terpasang atau seberapa lantang teksnya dibacakan.

Kesaktian itu seharusnya terlihat dari bagaimana negara memperlakukan rakyatnya.

Pancasila berbicara tentang kemanusiaan. Tetapi rakyat membutuhkan pelayanan yang manusiawi.

Pancasila berbicara tentang persatuan. Tetapi kepentingan publik jangan sampai terbelah oleh kepentingan kelompok.

Pancasila berbicara tentang musyawarah. Tetapi suara masyarakat jangan hanya dicatat dalam notulen, lalu dilupakan setelah rapat selesai.

Dan Pancasila berbicara tentang keadilan sosial. Di sinilah pertaruhannya paling nyata.

Apa arti keadilan sosial jika pembangunan belum dirasakan secara merata?

Apa arti musyawarah jika suara rakyat hanya didengar ketika menguntungkan?

Apa arti Pancasila jika kritik terhadap kebijakan justru dianggap sebagai gangguan?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan bentuk penolakan terhadap Pancasila. Justru sebaliknya, kritik tersebut merupakan cara untuk mengingatkan bahwa Pancasila tidak boleh berhenti sebagai simbol.

Pancasila semestinya menjadi batas moral bagi setiap kekuasaan. Kekuasaan boleh memiliki kewenangan, tetapi tidak boleh kehilangan kepekaan.

Pemerintah boleh mengambil keputusan, tetapi keputusan tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

Anggaran boleh disusun, program boleh direncanakan, pembangunan boleh dicanangkan. Namun pada akhirnya rakyat berhak bertanya: untuk siapa semua itu dikerjakan?

Di sinilah peringatan Hari Kesaktian Pancasila seharusnya tidak hanya menjadi agenda seremonial.

Sebab ada ironi ketika Pancasila terlihat begitu gagah di spanduk, tetapi nilai keadilan, kemanusiaan dan keberpihakan kepada rakyat terasa lemah di lapangan.

Pancasila tidak boleh menjadi dekorasi kekuasaan. Ia harus menjadi kompas yang mengingatkan bahwa jabatan adalah amanah, anggaran adalah uang rakyat, kebijakan adalah tanggung jawab, dan kritik adalah bagian dari kontrol publik.

Maka 1 Oktober semestinya bukan hanya hari untuk mengulang sejarah.

Ini adalah saat untuk bertanya kepada diri sendiri—terutama kepada mereka yang memegang amanah publik: Apakah kita sedang menjaga kesaktian Pancasila, atau hanya sedang merayakan simbolnya?

Sebab rakyat tidak hidup dari spanduk. Rakyat membutuhkan keadilan.

Rakyat tidak makan dari slogan. Rakyat membutuhkan kebijakan yang nyata.

Dan rakyat tidak membutuhkan Pancasila hanya untuk didengar setiap tahun. Rakyat membutuhkan Pancasila untuk dirasakan setiap hari.

Itulah ujian sesungguhnya: Pancasila boleh sakti di spanduk, tetapi jangan sampai tumpul di lapangan. (Penulis Redaksi Infodesanews)


Sponsor / Advertorial Banner In-Article Info Desa Peduli
❖ ❖ ❖
Sugeng
Tentang Penulis Naskah

Sugeng

Karya tulis dan ulasan literatur yang dipublikasikan pada rubrik artikel & jurnal INFODESANEWS.

Lihat seluruh karya oleh Sugeng
Iklan Kemitraan Resmi Ucapan Hari Kemerdekaan RI - Mitra Iklan 4

Rekomendasi Pustaka & Belanja Terpilih

Mitra Shopee
[Garansi 1 Tahun] Aolon GTR 3 Jam Tangan Smartwatch Tipis Original 46mm Amoled AOD Ultra-thin Kecepatan Berlari Detak Jantung Tidur Whatsapp Bluetooth Telepon

[Garansi 1 Tahun] Aolon GTR 3 Jam Tangan Smartwatch Tipis Original 46mm Amoled AOD Ultra-thin Kecepatan Berlari Detak Jantung Tidur Whatsapp Bluetooth Telepon

Cek Promo Shopee Beli
RAPAtech Power Bank Wireless 10.000 mAh for iPhone 13 14 Origin ON+ LED Display Wireless Fast Charging 15 W + PD 20W Powerbank Magsafe Fast Charging

RAPAtech Power Bank Wireless 10.000 mAh for iPhone 13 14 Origin ON+ LED Display Wireless Fast Charging 15 W + PD 20W Powerbank Magsafe Fast Charging

Cek Promo Shopee Beli
CIVAGO (13oz/385ml) Mug Kopi Stainless Steel dengan Lapisan Keramik dan Tutup Termos Vakum untuk Minuman Panas dan Dingin

CIVAGO (13oz/385ml) Mug Kopi Stainless Steel dengan Lapisan Keramik dan Tutup Termos Vakum untuk Minuman Panas dan Dingin

Cek Promo Shopee Beli
Anker soundcore TWS Earphone R50i - A3949

Anker soundcore TWS Earphone R50i - A3949

Cek Promo Shopee Beli

Rekomendasi Naskah & Pustaka Terkait

Lihat Semua Katalog
OPINI

Pelajaran Berharga Rocky Gerung Itu Bernama 'Realitas'

MELIHAT sosok yang dulunya begitu vokal menyuarakan kebenaran mendadak berada di barisan kekuasaan memang sering kali memicu kekecewaan mend...

Herki Mahendra 2 mnt
OPINI

Agama Dan Politik Haruskah Dipisahkan Secara Diametral ?

Opini: Jamal Pengurus KNPI Lampung BANDARLAMPUNG,INFODESANEWS-Masih ada sebagian orang yang berpandangan bahwa [Selengkapnya]

Korwil Lampung 10 mnt
OPINI

Jamal:Pelayanan Kesehatan Harus Bergerak Cepat,Karena Nyawa Tidak Bisa Menunggu

BANDARLAMPUNG,INFODESANEWS-Pelayanan kesehatan merupakan salah satu bentuk kehadiran negara dalam melindungi warganya. Di [Selengkapnya]

Korwil Lampung 3 mnt
OPINI

Jamal:Pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia

BANDARLAMPUNG,INFODESANEWS-Demokrasi yang sehat tidak hanya diukur dari kebebasan menyampaikan pendapat, tetapi juga [Selengkapnya]

Korwil Lampung 2 mnt

Tanggapan & Diskusi Naskah (0)

Berapa hasil dari 3 + 2?

Belum ada tanggapan untuk naskah ini. Jadilah yang pertama memberikan ulasan!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi