Senin, 28 September 2026
TERKINI
• Semarakkan HUT ke-81 TNI, Open Turnamen Domino Orado 101 Piala Panglima TNI Resmi Dibuka di Provinsi Lampung. (4 jam yang lalu) • Lindu Aji Kunduran Bersama Dua Anggota DPRD Blora dari PKB Gelar Dropping Air Bersih (4 jam yang lalu) • LSM Harimau Blora Siap Ikut Aksi Moral di MNC Tower Jakarta (9 jam yang lalu) • Wujud Kepedulian Rakyat, Danrem 091/ASN Buka Bazar HUT Ke-81 TNI di Kodim 0901/Smd (1 hari yang lalu) • Hasil Lab Kasus MBG Blora Berbeda dengan Keterangan Dinkes, Bacillus cereus Dipertanyakan (2 hari yang lalu) • 17 Desa Wilayah Lamsel Bakal Mengikuti Penilaian Desa Antikorupsi Tingkat Provinsi (2 hari yang lalu) • Kodim 0721/Blora dan BAZNAS Bedah Dua Rumah Warga Sambut HUT ke-81 TNI (2 hari yang lalu) • Fly Jaya Buka Rute Penerbangan Reguler Masamba-Makassar Segera Mengudara (2 hari yang lalu) • Ketum LAFKI dr Benny, Dorong RS Elim Rantepao Dikembangkan sebagai Rumah Sakit Pendidikan (2 hari yang lalu) • SDN 1 Plosarjo Terima Bantuan Revitalisasi, Kelas Rusak Kini Siap Jadi Ruang Belajar Nyaman (2 hari yang lalu)
INFODESA 15 Februari 2026, 12:19 WIB 895 PDF

Warisan Leluhur yang Menolak Dilupakan, Nyadran di Triharjo, Kearifan Lokal Menyambut Bulan Suci Ramadan

Redaktur Lampung
Oleh: Redaktur Lampung • ~3 mnt baca
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Warisan Leluhur yang Menolak Dilupakan, Nyadran di Triharjo, Kearifan Lokal Menyambut Bulan Suci Ramadan
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / Redaktur Lampung

LAMPUNG SELATAN, INFODESANEWS — Setiap pekan terakhir bulan Syakban, warga Desa Triharjo, Kecamatan Merbau Mataram, Kabupaten Lampung Selatan, kembali menggelar tradisi Nyadran. Tradisi adat yang diwariskan secara turun-temurun ini menjadi penanda kultural sekaligus spiritual masyarakat dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Bagi warga Triharjo, Nyadran bukan sekadar ziarah kubur, melainkan ruang kebersamaan yang menyatukan nilai adat, agama, dan kemanusiaan. Ziarah dilakukan secara bersama-sama pada waktu yang telah ditentukan, sebagai simbol persatuan, silaturahmi, serta pengingat kolektif tentang asal-usul dan keterbatasan hidup manusia.

Tokoh masyarakat Triharjo, Dwi Riyanto, menyebut Nyadran sebagai warisan budaya leluhur yang diyakini telah ada sejak masa Kerajaan Majapahit.

Seiring waktu, tradisi ini mengalami akulturasi dengan ajaran Islam, sehingga tetap lestari tanpa kehilangan nilai religius dan kearifan lokal yang menjadi ruh pelaksanaannya.

Rangkaian Nyadran diawali dengan Besik, yakni kegiatan gotong royong membersihkan area makam. Besik tidak hanya dimaknai sebagai upaya menjaga kebersihan, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur serta simbol kepedulian sosial antarsesama warga.

“Besik mengajarkan bahwa makam bukan tempat yang harus ditakuti, melainkan ruang untuk merenung, berdoa, dan mengingat akhir perjalanan hidup,” ujar Dwi Riyanto, yang juga merupakan anggota Fraksi Partai Gerindra di DPRD Lampung Selatan.

Sehari sebelum puncak Nyadran, pembagian peran dilakukan secara adat. Kaum laki-laki menyiapkan tarub, wadah makanan dari bambu, serta daun kelapa dan daun pisang. Sementara kaum perempuan memasak beragam sajian khas seperti tumpeng, ingkung ayam kampung, nasi uduk, apem, kolak ketan, dan hidangan tradisional lainnya.

Setiap sajian mengandung makna filosofis. Tumpeng melambangkan tujuan hidup manusia kepada Tuhan, ingkung ayam kampung mencerminkan kesederhanaan asal kehidupan, nasi uduk menggambarkan dinamika hidup, apem bermakna saling memaafkan, sementara kolak ketan melambangkan eratnya ikatan sosial yang harus dijaga bersama.

Puncak tradisi Nyadran ditandai dengan kirab tumpeng yang diusung para pemuda Karang Taruna Semud Bagus GRJ. Kirab ini menjadi simbol penghormatan terhadap rezeki serta ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Keunikan lain tampak dalam prosesi penyajian makanan. Para pemuda berjalan jongkok sambil membawa nampan dengan kedua tangan terangkat. Prosesi ini dimaknai sebagai simbol kesopanan, kerendahan hati, serta adab dalam memuliakan rezeki.

Dalam setiap pelaksanaan Nyadran, Dwi Riyanto—yang juga pernah menjabat sebagai Komisioner KPU Lampung Selatan selama dua periode—kerap dipercaya menyampaikan pitutur adat dan tausiyah. Pesan yang disampaikan berisi adab ziarah kubur serta hikmah kematian sebagai pengingat agar manusia senantiasa menjaga perilaku dan memperbaiki diri.

Bagi masyarakat Triharjo, Nyadran bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan identitas budaya. Sebuah kearifan lokal yang terus dirawat, mengajarkan nilai kebersamaan, penghormatan terhadap leluhur, serta kesadaran akan perjalanan akhir manusia di tengah arus perubahan zaman.

Rangkaian Nyadran juga kian menarik untuk diikuti karena panitia dan warga yang hadir dianjurkan mengenakan pakaian tradisional. Anjuran ini bukan sekadar unsur estetika, melainkan simbol edukasi budaya bahwa perbedaan adalah bagian dari ketetapan Tuhan.

Melalui busana adat, warga diajak memahami bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal, saling menghormati, dan hidup berdampingan dalam harmoni, sejalan dengan nilai adat dan kearifan lokal yang terus dijaga masyarakat Triharjo. (red)

Oleh: Redaktur Lampung

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Topik: #INFODESA #infodesanews #kabarindonesia
Redaktur Lampung
Jurnalis Terverifikasi Redaktur Wilayah Lampung

Redaktur Lampung

Pengelola rubrik liputan daerah Lampung, dinamika desa, dan pembangunan nusantara.

Redaksi Wilayah • Kominfo No. 593
Semua Berita Penulis Ini

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
6 + 6 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi