Rabu, 30 September 2026
TERKINI
• Ponpes Al Abror Rayakan HUT ke-4, Plt Asisten II Bernostalgia dan Ajak Warga Waspada Kebakaran (2 jam yang lalu) • Dari TOGA ke Pasar Digital, UMS Bekali Mitra PAKYA Herbal (4 jam yang lalu) • Pemerintah Desa Sidodadi Asri Gelar Musyawarah Rencana Pembangunan Desa Tahun 2027 (4 jam yang lalu) • Karang Taruna Got Talent 2026 Siapkan Panggung Talenta Muda Lampung Selatan, Saatnya Bakat Lokal Tunjukkan Prestasi (9 jam yang lalu) • Pemerintah Desa Margo Mulyo Gelar Musrenbangdes Tahun 2027 (10 jam yang lalu) • DPP KAMPUD Hadiri Undangan Klarifikasi di POLDA Lampung: Usut Dugaan Korupsi 14 Proyek Alkes RSUD KH Ahmad Hanafiah (12 jam yang lalu) • GERAK CEPAT TNI-POLRI DAN DAMKAR, SALURKAN AIR BERSIH MENGALIR UNTUK WARGA DESA SERDANG (12 jam yang lalu) • Kodim 0906/Kkr Salurkan Bantuan Air Bersih kepada Warga Bendang Raya (12 jam yang lalu) • Musrenbangdes Tahun 2027, Pemerintah Desa Sumber Jaya Berharap Pemkab Lamsel Bangun Jalan Tapip. (19 jam yang lalu) • Musrenbangdes Tahun 2027 Di Desa Margodadi, Noven Fahri Paparkan Pembangunan Di Tahun 2026 (19 jam yang lalu)
INFODESA 22 Mei 2024, 15:24 WIB 2,102 PDF

Ricky: Sebagai Pengamat Dari Akademisi, Dedi Hermawan Diminta Jangan Asbun di Media

Redaktur Lampung
Oleh: Redaktur Lampung • ~3 mnt baca
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Ricky: Sebagai Pengamat Dari Akademisi, Dedi Hermawan Diminta Jangan Asbun di Media
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / Redaktur Lampung

LAMPUNG SELATAN, INFODESANEWS  — Pemerhati Sosial, Ricky Oktoro Wiwoho meminta Pengamat Kebijakan Publik Unila, Dedi Hermawan tidak asal bunyi (Asbun) berkoar-koar di media menuding salah satu kepala daerah adalah seseorang yang anti kritik.

Didalam artikel yang dilansir oleh detikSumbagsel pada Sabtu 18 Mei 2024 lalu, Dedi juga menuduh kepala daerah itu bereaksi dengan menyerang personal warga yang menyampaikan kritik jalan rusak di Lampung Selatan.

Tidak sampai disitu, bahkan Dedi kembali menuding pemerintah daerah tersebut mengerahkan buzzer di media sosial untuk menyerang pengkritik sebagai upaya menutupi kinerja yang buruk.

“Katanya akademisi, kok terkesan asbun (Asal bunyi). Apa dasarnya tuduhan yang menyebutkan anti kritik hingga menyerang personal pengkritik? Apa buktinya? Apa hanya berasal dari keterangan sepihak warga tersebut yang katanya selebgram itu? Atau hal itu hanya sebatas asumsi pribadi belaka,” ujar Ricky Oktoro Wiwoho kepada wartawan, Selasa.(21/5/2024)

“Atau juga, agar sedikit lebih keren sesuai dengan kapasitas, bahwa tuduhan-tuduhan itu merupakan kesimpulan atas riset yang sudah dilakukan sebelumnya? Atau jangan-jangan ini hanya sebuah upaya pembunuhan karakter yang dilakukan dengan cara sistematis yang juga dicukongi oleh sebuah kekuatan besar?” Imbuhnya.

Ricky menilai, apa yang disampaikan oleh wakil dekan bidang akademik dan kerjasama Universitas Lampung ini merupakan upaya penggiringan opini untuk mengkerdilkan seorang figur dalam kaitannya kepentingan tertentu, seperti politik.

“Ini kan tahun politik, semua paham lah. Tidak ada di dunia ini dilakukan dengan percuma, semuanya memiliki tendensi. Tidak ada yang namanya makan siang gratis.Tapi sayangnya hal ini dilakukan oleh seorang akademisi yang cukup terpandang,” katanya lagi.

Idealnya, terus warga Kecamatan Sidomulyo Lampung Selatan ini, Dedi Hermawan sebagai seorang pengamat agar dapat lebih objektif lagi dalam menyampaikan pendapat dan buah pikirannya.

Karena menurutnya, tudingan seperti itu yang tanpa data dan hanya berdasarkan dari keterangan sepihak dan asumsi pribadi belaka merupakan sebuah ‘kecelakaan intelektual”

“Sebelum mengeluarkan pendapat di media, mestinya sebagai seorang akademisi dapat pelajari dahulu, hal apa yang disampaikan untuk dikomentari. Kumpulkan informasi dan data sebanyak mungkin sebagai referensi. Jangan latah, hanya mengikuti apa yang disampaikan secara instan,” tuturnya.

Ricky juga menyampaikan, berdasarkan data dari Dinas PUPR dan Bappeda Kabupaten Lampung Selatan, jalan poros antara Kecamatan Katibung dan Merbau Mataram tersebut sudah tercover dalam usulan dan bakal dilaksanakan pembangunan pada 2025.

Masih berdasarkan sumber Pemkab Lamsel, sambungnya, jalan kabupaten sendiri di Lampung Selatan memiliki panjang kurang lebih sekitar 1.024 kilometer. Namun demikian, 230 kilometer diantaranya mengalami rusak berat.

“Jalan-jalan rusak tersebut sudah masuk perencanaan strategis dari Dinas PUPR, termasuk jalan poros penghubung 2 kecamatan yang sempat viral karena dijadikan tempat mandi oleh warga yang katanya selebgram,” ucapnya.

“Kemudian, sudah terprogram juga di dinas terkait jika 230 kilometer jalan yang rusak tersebut ditargetkan selesai pembangunannya pada 2025-2026. Maka menjadi tak benar juga atas tudingan yang menyebutkan kritikan tersebut merupakan ekspresi atas macetnya saluran aspirasi konvensional. Padahal faktanya, memang karena malas mencari data dan informasi dan menyukai sesuatu hal yang sensasional dan bombastis,” pungkas Ricky.(Ronald)

Oleh: Redaktur Lampung

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Topik: #INFODESA #infodesanews #kabarindonesia
Redaktur Lampung
Jurnalis Terverifikasi Redaktur Wilayah Lampung

Redaktur Lampung

Pengelola rubrik liputan daerah Lampung, dinamika desa, dan pembangunan nusantara.

Redaksi Wilayah • Kominfo No. 593
Semua Berita Penulis Ini

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
8 + 7 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi