Minggu, 4 Oktober 2026
TERKINI
• Peringati HUT ke-81 TNI, Kodim 0906/Kukar Gelar Ziarah Nasional (45 menit yang lalu) • LSM Harimau Blora Salurkan Bantuan Air Bersih ke 25 Desa Terdampak Kekeringan (2 jam yang lalu) • Pelajaran Berharga Rocky Gerung Itu Bernama 'Realitas' (18 jam yang lalu) • Meriahkan HUT TNI, Kodim 0906/Kkr Gelar Turnamen Sepak Bola Bagi Pelajar (21 jam yang lalu) • Plat Besi Bikin Curiga,Polisi Temukan 27 Kilogram Sabu Di Innova (1 hari yang lalu) • Laporan Seno Aji:OMBUDSMAN Periksa Ulin Nuha Kepala BPN Bandar Lampung (1 hari yang lalu) • Musrenbangdes Di Desa Marga Agung Tahun 2027 Fokus Pada Infrastruktur Dan Pertanian (1 hari yang lalu) • Musrenbangdes Tahun 2027 Desa Marga Kaya Ikuti RPJMDes (1 hari yang lalu) • Musrenbangdes Desa Gedung Harapan Tahun 2027 Fokus Pembangunan Jalan Lingkungan (1 hari yang lalu) • Pemkab Lamsel Buka Akses Dokumentasi Kegiatan, Tinggal Scan QR Code Bisa Unduh Gratis (1 hari yang lalu)
INFODESA 21 Oktober 2021, 15:18 WIB 1,459 PDF

Ketua DPC Himtani Sragen Suhadi Menilai Panen Raya Perlu Dievaluasi

Admin Utama
Oleh: admin • ~2 mnt baca
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Ketua DPC Himtani Sragen Suhadi Menilai Panen Raya Perlu Dievaluasi
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / admin

SRAGEN – INFODESANEWS, Ketua Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Masyarakat Tani-Nelayan Indonesia (DPC Himtani) Sragen Suhadi menilai, panen raya perlu dievaluasi. Sebab, panen serentak membuat harga gabah jatuh dan tidak bisa mendukung ekspor ke luar negeri.

Suhadi mengusulkan, supaya masa tanam diatur per wilayah, sehingga musim panennya juga bisa teratur di tiap wilayah tertentu. Dengan pengaturan waktu tanam dan panen, menurutnya, ketersediaan gabah di Sragen bisa terus ada sepanjang, tahun sehingga bisa mendukung ekspor, karena ekspor harus rutin dan berkala.

Penilaian itu dilontarkan Suhadi karena harga gabah anjlok dan petani mengeluh.

” Para petani mengeluhkan anjloknya harga gabah kering panen (GKP) yang anjlok pada musim panen Juni bulan lalu. Harga gabah turun dari Rp 4.600/kg menjadi Rp 4.200/kg pekan kemarin. Saat ini tinggal Rp 3.700-Rp 3.800/kg,” jelas Suhadi belum lama ini.

Menurut Suhadi, petani merugi sampai Rp 1 juta per patok, karena kondisi padi yang roboh diguyur hujan.

“Kondisi petani sekarang susah. Pupuk mahal. Setiap panen paling hanya bisa mendapatkan 28 kuintal GKP. Harapan petani, pupuknya dicukupi. Katanya pupuk disubsidi, ternyata dapatnya sedikit. Mendingan satu pupuk saja, tapi bisa mencukupi kebutuhan petani. Petani membutuhkan 2,5 kuintal, hanya dikasih 1,5 zak,” ujar Suhadi seraya mengungkapkan bahwa para petani banyak yang mengadu ke Himtani dan minta dicarikan solusi untuk permasalahan mereka itu.

Suhadi mengatakan, harapan petani saat panen, harga GKP tinggi. Harga GKP Rp 4.600/kg, petani sudah bersyukur, meskipun baru impas dengan biaya produksi dan sewa lahan. Apalagi saat tanaman padi ambruk dan hujan, membuat harga gabah semakin jatuh.

Suhadi menambahkan, kalau tanaman padi roboh tidak bisa dipanen dengan alat combine harvester tapi dengan thresher. (gim/her)

Oleh: admin

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Topik: #INFODESA #infodesanews #kabarindonesia
Admin Utama
Jurnalis Terverifikasi Administrator Utama

Admin Utama

Pemimpin Redaksi dan Penanggung Jawab Portal Berita INFODESANEWS.

Redaksi Wilayah • Kominfo No. 593
Semua Berita Penulis Ini

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
4 + 8 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi