Minggu, 27 September 2026
TERKINI
• Wujud Kepedulian Rakyat, Danrem 091/ASN Buka Bazar HUT Ke-81 TNI di Kodim 0901/Smd (13 jam yang lalu) • Hasil Lab Kasus MBG Blora Berbeda dengan Keterangan Dinkes, Bacillus cereus Dipertanyakan (1 hari yang lalu) • 17 Desa Wilayah Lamsel Bakal Mengikuti Penilaian Desa Antikorupsi Tingkat Provinsi (1 hari yang lalu) • Kodim 0721/Blora dan BAZNAS Bedah Dua Rumah Warga Sambut HUT ke-81 TNI (1 hari yang lalu) • Fly Jaya Buka Rute Penerbangan Reguler Masamba-Makassar Segera Mengudara (1 hari yang lalu) • Ketum LAFKI dr Benny, Dorong RS Elim Rantepao Dikembangkan sebagai Rumah Sakit Pendidikan (1 hari yang lalu) • SDN 1 Plosarjo Terima Bantuan Revitalisasi, Kelas Rusak Kini Siap Jadi Ruang Belajar Nyaman (1 hari yang lalu) • Perkuat Kelembagaan dan Kolaborasi, PWI Sulsel Silaturahmi ke Bank Mandiri (1 hari yang lalu) • Dua Bulan Hampir Berlalu, RDP Limbah PT Ciomas Belum Terwujud, Ada Apa? (2 hari yang lalu) • Geothermal Rajabasa Ditolak Masyarakat, DPRD Siap Teruskan Aspirasi hingga ke Pemerintah Berwenang (2 hari yang lalu)
INFODESA 07 Januari 2026, 14:45 WIB 464 PDF

Dwi Riyanto Turun ke Arena, Ikut Menari Beksan Wanara di Srawung Seni Sawah V Lampung Selatan

Redaktur Lampung
Oleh: Redaktur Lampung • ~3 mnt baca
AI Suara

Dengarkan artikel dibacakan otomatis

Dwi Riyanto Turun ke Arena, Ikut Menari Beksan Wanara di Srawung Seni Sawah V Lampung Selatan
Foto: Dokumentasi infodesanews.com / Redaktur Lampung

LAMPUNG SELATAN, INFODESANEWS — Anggota DPRD Lampung Selatan Fraksi Gerindra, Dwi Riyanto, ikut turun langsung ke arena dan menarikan Beksan Wanara dalam pembukaan Srawung Seni Sawah ke-5 yang digelar di Desa Triharjo, Kecamatan Merbau Mataram, Rabu (7/1/2026)

Kehadiran sekaligus partisipasi aktif wakil rakyat yang berjuluk konco yasinan menjadi perhatian publik dan peserta yang hadir.

Acara Srawung Seni Sawah Ke-V digelar sebagai ruang perjumpaan antara seniman, masyarakat, dan generasi muda dalam merawat kebudayaan serta memperkuat kesadaran ekologis.

Pementasan Beksan Wanara dipilih dan berlangsung di bawah pohon merbau terbesar di Lampung, yang memiliki nilai simbolik kuat bagi masyarakat setempat.

Beksan Wanara sendiri merupakan tarian yang terinspirasi dari tokoh Hanoman dalam mitologi. WANARA berasal dari bahasa Sanskerta, gabungan kata wana (hutan) dan nara (manusia), yang dimaknai sebagai manusia hutan atau manusia kera. Tarian ini dikenal luas di Yogyakarta dan kerap dipentaskan melalui berbagai aksi flashmob di ruang publik oleh keraton, perguruan tinggi, sekolah, hingga komunitas seni.

Di Lampung, Beksan Wanara dipopulerkan oleh para pegiat Srawung Seni Sawah dengan pendekatan yang membumi. Tarian ini kerap ditampilkan di pusat kuliner, hajatan warga dan ruang terbuka lainnya, sebagai upaya mendekatkan seni tradisi kepada masyarakat luas.

Dalam kegiatan tersebut, Dwi Riyanto tidak hanya hadir sebagai undangan atau narasumber, tetapi turut menari bersama para pegiat Srawung Seni Sawah, anak-anak sekolah dasar, serta mahasiswa KKN Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Aksi tersebut menjadi simbol bahwa seni dan kebudayaan tidak mengenal sekat jabatan maupun status sosial.

Dwi Riyanto menyampaikan bahwa makna WANARA bukan tentang meniru perilaku monyet, melainkan refleksi tentang kemanusiaan. Menurutnya, jika tokoh manusia kera seperti Hanoman mampu menunjukkan nilai-nilai kesetiaan, keberanian, dan pengabdian, maka manusia sejatinya harus lebih mampu menjaga etika, adab, dan tanggung jawab sosial.

Ia juga menekankan pentingnya relasi manusia dengan alam. Lokasi pementasan di bawah pohon merbau dinilai sebagai pengingat bahwa manusia hidup berdampingan dengan lingkungan.

“Mengasuh pohon berarti menjaga kehidupan, karena pohon telah lebih dulu mengasuh manusia melalui air dan oksigen,” ujarnya.

Srawung Seni Sawah ke-5 diharapkan menjadi ruang edukasi budaya sekaligus ruang sosial yang inklusif, terutama bagi anak-anak dan generasi muda. Melalui seni tari, masyarakat diajak untuk kembali memahami nilai-nilai kebudayaan, memperkuat solidaritas sosial, serta menumbuhkan kepedulian terhadap kelestarian alam.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa pelestarian seni dan budaya bukan hanya tanggung jawab seniman, tetapi juga seluruh elemen masyarakat, termasuk para pemangku kebijakan. Dengan keterlibatan langsung wakil rakyat, Srawung Seni Sawah V menjadi contoh kolaborasi antara seni, masyarakat, dan pemerintahan dalam membangun kehidupan sosial yang berakar pada nilai kemanusiaan dan kelestarian lingkungan. (red)

Oleh: Redaktur Lampung

Suka dengan artikel ini?

Bagikan informasi penting ini kepada rekan, keluarga, dan grup media sosial Anda.

Topik: #INFODESA #infodesanews #kabarindonesia
Redaktur Lampung
Jurnalis Terverifikasi Redaktur Wilayah Lampung

Redaktur Lampung

Pengelola rubrik liputan daerah Lampung, dinamika desa, dan pembangunan nusantara.

Redaksi Wilayah • Kominfo No. 593
Semua Berita Penulis Ini

Komentar Pembaca (0)

Ruang Aspirasi & Tanggapan Terbuka

Aman & Rahasia
9 + 1 =

Belum ada komentar untuk berita ini.

Jadilah yang pertama menyampaikan pandangan Anda!

Beranda Daerah
TV DESA
Redaksi