BLORA, INFODESANEWS – Dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Kabupaten Blora, Kamis (1/10/2026). Kali ini, sejumlah siswa SDN 1 Tutup, Kecamatan Tunjungan, mengalami keluhan setelah menerima makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tutup di bawah naungan Yayasan Pelita Gizi Makmur.
Kepala SDN 1 Tutup, Mustofa Kamal Riyanto, mengatakan kejadian mulai diketahui sekitar pukul 09.30 WIB. Saat itu, seorang guru kelas 2 melaporkan adanya siswa yang mengalami sakit perut, pusing, dan muntah.
"Pertama muncul sekitar 09.30, Bu Guru kelas 2 lapor kepada saya kaitannya ada yang sakit perut, pusing, muntah. Kemudian ditangani Bu Guru dengan pertolongan pertama menggunakan minyak kayu putih," ujar Kamal.
Setelah kondisi tersebut diketahui, guru meminta siswa yang mengalami keluhan untuk dipulangkan. Pihak sekolah juga langsung menghubungi SPPG untuk meminta penanganan.
"Saya chat WhatsApp ke kepala SPPG, karena tidak segera dibalas akhirnya kami telepon, mohon untuk segera ditangani," jelasnya.
Namun, Kamal menyebut pihak yang datang ke sekolah pertama kali justru dari SPPG Tutup, sehingga ia mempertanyakan mengapa tidak langsung melibatkan tenaga kesehatan.
"Setelah datang saya bertanya, kenapa yang datang dari pihak SPPG bukan dari tim kesehatan. Kemudian dia baru telepon ke puskesmas," ujarnya.
Tidak lama kemudian, petugas puskesmas datang ke sekolah. Petugas kepolisian dari Polsek serta personel Koramil juga turut datang untuk melakukan penanganan dan pemeriksaan.
Sebanyak 13 siswa dari kelas 1 hingga kelas 4 SDN 1 Tutup kemudian diperiksa. Para siswa tersebut merupakan penerima program MBG yang makanan didistribusikan dari SPPG Yayasan Pelita Gizi Makmur Tutup.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Blora, AKP Zaenul Arifin, mendatangi SDN 1 Tutup untuk melakukan proses penyelidikan. Pihaknya mengamankan sisa muntahan siswa yang ada di depan kelas, sementara muntahan lainnya terjadi di toilet sekolah sehingga langsung disiram.
"Masih dalam proses penyelidikan," kata Zaenul.
Di tempat SPPG Tutup, Subkoordinator Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Kerja, dan Olahraga Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Blora, Tutik Rahayu, mengatakan pihaknya telah melakukan pemeriksaan ke SPPG. Petugas menggali sejumlah informasi terkait proses pengolahan dan pendistribusian makanan, mulai dari waktu makanan dimasak hingga proses pengiriman ke penerima.
"Kita tadi menanyakan terkait dengan kapan masaknya dan matangnya jam berapa, terus distributornya siapa, kemudian datangnya jam berapa," jelas Tutik.
Petugas kemudian mendatangi langsung lokasi SPPG Yayasan Pelita Gizi Makmur Tutup untuk memeriksa kondisi tempat pengolahan makanan.
"Dari pemeriksaan awal, ternyata ada banyak dindingnya yang bolong," ungkapnya.
Meski demikian, Tutik menyatakan pihaknya belum dapat menyimpulkan penyebab munculnya keluhan pada siswa. Pemeriksaan masih dilakukan, termasuk menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel yang berkaitan dengan makanan tersebut.
"Kami belum bisa menyampaikan sepenuhnya karena masih proses pemeriksaan laboratorium," pungkasnya.**Red