SUKOHARJO, INFODESANEWS – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mendorong pengembangan produk herbal berbasis potensi lokal melalui pemanfaatan pemasaran digital. Kali ini, UMS membekali mitra LKSA PAKYA Mojolaban dengan pelatihan digital marketing untuk mengembangkan pemasaran produk jamu serbuk kering hasil pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA).
Pelatihan yang digelar Minggu (27/9/2026) tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat yang mendapat hibah pendanaan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UMS 2026. Kegiatan ini melanjutkan pendampingan sebelumnya dalam mengolah TOGA menjadi produk jamu serbuk kering.
Ketua tim pengabdian UMS, Ima Aryani, mengatakan kemampuan produksi perlu diikuti strategi pemasaran yang sesuai dengan perkembangan teknologi.
"Produk yang sudah dihasilkan perlu didukung kemampuan pemasaran. Melalui Instagram dan WhatsApp Business, kami berharap PAKYA Herbal dapat memperluas jangkauan pasar sekaligus membangun identitas dan kepercayaan konsumen," ujar Ima.
Dalam pelatihan tersebut, Muhammad Halim Maimun memberikan materi sekaligus pendampingan praktik pemanfaatan Instagram dan WhatsApp Business untuk pemasaran. Peserta diajarkan membuat akun bisnis, menyusun profil usaha, membuat konten promosi, memotret produk, menulis caption, hingga membangun interaksi dengan calon konsumen.
Sementara melalui WhatsApp Business, peserta diperkenalkan dengan fitur profil bisnis, katalog produk, pesan otomatis, serta pengelolaan komunikasi dan pemesanan pelanggan.
Pelatihan berlangsung secara interaktif. Peserta langsung mempraktikkan pembuatan akun, penyusunan informasi produk, hingga promosi jamu herbal melalui media digital.
Mitra PAKYA Herbal, Sariningrum, mengapresiasi pendampingan yang diberikan UMS. Menurutnya, pelatihan tersebut memberikan pengetahuan baru mengenai cara memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat.
"Kami berterima kasih kepada UMS karena tidak hanya mengajarkan cara membuat produk jamu serbuk, tetapi juga mendampingi kami dalam memasarkannya melalui media digital," kata Sariningrum.
Produk seperti serbuk jahe yang dikembangkan dari TOGA tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai hasil pelatihan, tetapi dapat berkembang menjadi produk bernilai ekonomi. Karena itu, pendampingan diarahkan tidak hanya pada produksi, tetapi juga pengemasan, branding, hingga pemasaran digital.
UMS berharap keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan secara konsisten sehingga Instagram menjadi sarana membangun brand awareness, sementara WhatsApp Business mendukung komunikasi dan layanan pemesanan konsumen.
Program ini menjadi bagian dari upaya UMS menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pemberdayaan masyarakat berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan potensi lokal. Dengan dukungan pemasaran digital, produk herbal PAKYA diharapkan mampu menjangkau pasar yang lebih luas dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat.**