Hari besar keagamaan dan kebangsaan selalu hadir dengan kemeriahan. Ucapan selamat menggema, simbol toleransi bertebaran. Namun di balik itu, muncul pertanyaan mendasar: apakah persatuan benar-benar terjaga, atau hanya terlihat indah di permukaan?
Faktanya, toleransi masih sering berhenti pada kata-kata. Perbedaan belum sepenuhnya diterima sebagai kekuatan. Bahkan, tidak jarang justru dipertajam, terutama di tengah derasnya arus informasi digital yang kerap memicu perpecahan.
Padahal, sebagai bangsa yang dibangun dari keberagaman, Indonesia seharusnya menjadikan hari besar sebagai ruang refleksi. Bukan sekadar seremoni, tetapi momentum untuk memperkuat saling menghormati dan menjaga kebersamaan.
Kebersamaan tidak lahir dari kesamaan, melainkan dari kesadaran untuk hidup berdampingan. Ketika satu merayakan dan yang lain menghormati, di situlah nilai persatuan benar-benar hidup.
Namun jika hari besar hanya menjadi rutinitas tanpa makna, maka yang tersisa hanyalah formalitas. Lebih berbahaya lagi, ketika persatuan hanya dijadikan slogan, sementara perpecahan tumbuh diam-diam.
Hari besar sejatinya adalah cermin bangsa. Ia menunjukkan apakah kita benar-benar kuat dalam keberagaman, atau justru rapuh di balik perbedaan.
Di tengah situasi ini, infodesanews.com hadir bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mengingatkan: bahwa persatuan bukan sekadar wacana, melainkan tanggung jawab bersama yang harus terus dijaga.
(Redaksi infodesanews.com)