oleh

Percakapan Dua Penghayat Sosrokartono: Menggembala Waktu dan Keadaan

KUDUS, INFODESANEWS – Orang kebanyakan berkata, “Lain kepala beda pendapatnya”, kalimat itu biasanya menunjuk pada dua orang pemikir yang berdiskusi, karena yang kerap terjadi silang pendapat tak berujung. Tapi,media Infodesanews.com melihat hal ini dua “Orang kawak” bercengkerama dalam tema, Seni, Filsafat, Politik , agama dan ideologi, dengan sangat asyik.

Patung RM. Sosrokartono

Aneh, mereka bisa mengumbar pemikiran dan analisa bidang sufi, metafisika/ontologis dan teknosofi dengan lancarnya tanpa konflik. Sepertinya mereka berdua “Tunggal Guru”. Tetapi setelah sebentar wawancara, ketahuan, keduanya lama sebagai rantauan Yogya.

Bahkan keduanya memiliki tanggal kelahiran yang sama, “Weton”-nya juga sama. Sehingga sering terlihat dalam percakapan berhenti, lalu saling ketawa dan tangannya sama-sama menuding “hayo arep ngomong opo?”. Ternyata keduanya sama menduga jalan “Akal budinya dan sama, itulah Bambang Dalyoko (BD) dan Bin Subiyanto (BS).

BD dan BS, adalah dua diantara dari komunitas generasi seniman dan budayawan pada masa 1985 – 2005.

Pada tahun 2003 – 2004, BD dan BS bersama Tri Wiworo, Joko JP, Prayit SM, Zainuri Islam, Amin Khundori, menggagas Studi Sosrokartono dan sekaligus Patung Sosrokartono. Bambang Dalyoko berhasil mengungkapkan tafsir filsafat Eyang Sosro dalam wujud gurat dan lekuk pahat pada obyek patung yang digelutinya siang malam.

Setahun lamanya penelitian pemikiran Sosrokartono, kemudian pandaleman penghayatan terhadap nilai dan karakter beliau untuk dimanifestasikan pada perform patung setinggi 3,5 meter.

Demikian ungkap Bin Subiyanto tentang proses transendensi kreatif yang dijalani BD lebih setahun.

” Luar Biasa dia “

“ahh, biasa biasa sajalah”, sahut BD.

Karena saking intensnya, menghayati kepribadian Sosrokartono, kerapkali tutur kata, laku “Sak Madyo”, sak cukupe, dan katakter “Nglurug Tanpo Bolo, Digdoyo tanpo aji, Menang Tanpo Ngasorake”, menjadi etika kehidupannya.

Mengikuti Waktu dan Keadaan, bagi para “waskito” saat ini wajib dan harus “nastiti”. Pendemi Covid 19 dan situasi pertarungan Ideologi intern-ekstern dan politik global, menuntut kemampuan adaptasi dengan modal kecerdasan, kearifan dan kekuatan kepribadian.

Sayang sekali awak media hanya 3 (tiga) jam mengikuti percakapan dua Penghayat Keilmuan Sosrokartono ini.

Bambang Dalyoko menghembuskan asap rokoknya dan menembus seselaan rambut jenggot yang mulai memutih. Sebelum usai pertemuan Bambang berkata, “Aja Lali Ngemong Waktu lan Kahanan”, (Jangan lupa/ tugas kita/ Mengendalikan Waktu dan Keadaan). (MU/Ibnu Rahman)

Berita