oleh

Penyusuran Wartawan: Satu Suku Rampi di Lutra Terlupakan Adat Budayanya Terancam Punah

Oleh : Yustus Bunga, SP (Bagian I)

SULSEL, INFODESANEWS – Satu suku Rampi terlupakan, salah satu kecamatan di Kabupaten Luwu Utara (Lutra) Sulawesi Selatan (Sulsel), masih terisolir di pegunungan Kambuno dan sangat kental adat budayanya. Di kecamatan ini, selain masih kental dengan adat dan budayanya, masyarakatnya juga dikenal ramah tamah, sopan dan menjunjung tinggi derajat serta Iman Nya.

Satu-satunya akses transportasi untuk ke Kecamatan Rampi tersebut adalah bandar udara Rampi yang melayani rute Rampi-Masamba selain jalanan yang hanya bisa dilalui ojek motor yang sudah dimodifikasi ala trail dan masih memprihatinkan. Untuk jarak dati ibukots Kabupaten Luwu Utara adalah Masamba ke Rampi kurang lebih 86 km.

Sekadar diketahui luas Kecamatan Rampi 1.565,66 km2 can ada 6 Desa yakni, Desa Onondowa dengan luas wilayah 479,60 km2, disitu ibukota Kecamatan Rampi yang berbatasan dengan Salukaiya Pamona Barat Sulawesi Tengah, Desa Sulaku luas wilayahnya 135,47 km2, Desa Leboni luas wilayahnya 148,70 km2 dan berbatasan dengan Kabupaten Poso dan Kecamatan Mangkutans Kabupaten Luwu Timur.

Desa Tedeboe luas wilayahnya 264,79 km2 yang berbatasan dengan Kalamanta Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah, Desa Dodolo luas wilayahnya 217,93 km2 yang berbatasan dengan Runde, Badangkaita, Lore Selatan dan Desa Rampi luas wilayahnya 319 17 km2 yang berbatasan dengsn Tuare, Lore Barat dengan Kondisi iklim di Kecamatan Rampi beriklim dingin-sejuk dengan dominasi hamparan hutan belantara dan padang sabana.

BACA JUGA  Tim Juri Lomba Desa Wisata Nasional Kunjungi Lembah Dongde

Oleh sebab itu, Jurnalis media ini tertarik menyusuri hutan belantara, lembah yang terjal dengan jalanan yang ekstrim bersama tukang ojek yang dicarter hanya untuk menyusuri perkembangan pembangunan di Kecamatan yang berada di pegunungan Kambuno yang masih terisolir.

Untuk sampai kesana (Rampi, red) diketahui ada dua alternatif, yakni naik pesawat terbang Susi Air atau jalan darat yang masih jauh dari kata baik.

Kecamatan Rampi yang diatas pegunungan terisolir, merupakan salah satu dari sekian banyak lembah yang terdapat didaerah pegunungan di Sulawesi Selatan, dan tepatnya berada di kaki gunung perbatasan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan yang bernama Gunung Moraoa.

Menyusuri satu suku yang terlupakan di Sulawesi Selatan yakni Rampi, banyak yang menarik dengan kekayaannya didalam tanah yakni Emas, Uranium dan lainnya. Namun budaya dan adat Rampi ada gejala akan terancam hilangnya atau punahnya budaya dan adat Tana Rampi yang dikenal dengan Ada Woi’ Rampi, karena ada beberapa penyebab atau faktor.

BACA JUGA  Dari Kunjungan Kemenparekraf di Karanganyar; Desa Wisata Sumberbulu Makin Moncer

Faktor yang akan menyebabkan punahnya Ada Woi’ Rampi ini dimana banyaknya suku Rampi yang meninggalkan kampung halamannya dan tinggal menetap dibeberapa daerah di provinsi Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, sehingga mengikuti budaya atau adat didaerah itu, dan setelah ada yang kembali kedaerah Rampi, mereka akan cenderung memakai adat yang dipakai didaerah Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan tempat mereka berdomisili sebelumnya.

Kalau kita ke Rampi, masyarakat dan Tokey menyambut kita dengan mereka menilai seseorang dengan tingkah, tutur kata dan menjiwai kita, baru Tokey menyambut tamu. Dalam penyambutan tamu itu diserahkan ayam jantan yang ada warna putih, telur dan beras sebagai simbol kejantanan, keperkasaan untuk mdngayomi dan melindungi masyarakat, agar masyarakat hidup makmur dan sejahtera serta tamu dilindungi dari roh-roh jahat.

“Selain itu juga banyaknya putra-putri Rampi yang nikah dengan perjaka dan gadis lain diluar orang Rampi, sehingga gejala ini juga mempengaruhi,” tutur Tokey Tongko (Ketua Adat wilayah Rampi) sekarang ini, Paulus Sigi. (Bersambung). (yustus)

Berita