Namun, keberadaan Suku Rampi kini menghadapi ancaman serius. Salah satu faktor utamanya adalah migrasi besar-besaran.
Banyak generasi muda Rampi yang meninggalkan kampung halaman mereka untuk belajar dan mencari kehidupan yang lebih baik di daerah lain.
Ketika mereka menetap di tempat baru, mereka cenderung beradaptasi dengan budaya setempat, sehingga lambat laun adat dan tradisi asli Rampi mulai luntur.
Selain migrasi, perkawinan antar suku juga menjadi faktor yang berkontribusi terhadap punahnya budaya asli Rampi.
Generasi muda yang menikah dengan orang dari luar komunitas mereka sering kali tidak melestarikan adat istiadat leluhur.
Ini menyebabkan hilangnya bahasa, ritual adat, serta kepercayaan lokal yang telah diwariskan turun-temurun.
Faktor eksternal seperti minimnya perhatian pemerintah dalam pengembangan infrastruktur dan pendidikan juga mempercepat proses kepunahan budaya Suku Rampi.
Jalan menuju Rampi sangat sulit dilalui, sehingga akses terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan ekonomi menjadi sangat terbatas.
Akibatnya, masyarakat Rampi kesulitan mendapatkan kesempatan yang sama dengan daerah lain untuk berkembang.
Ironisnya, di tengah segala keterbatasan ini, tanah Rampi menyimpan potensi sumber daya alam yang luar biasa, termasuk emas dan uranium.
Kekayaan ini seharusnya bisa menjadi modal bagi pembangunan daerah, namun tanpa infrastruktur yang memadai dan kebijakan yang berpihak pada masyarakat lokal, mereka justru berisiko kehilangan tanah adat mereka kepada pihak luar yang memiliki kepentingan ekonomi.