BLORA, INFODESANEWS – Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Margo Mulyo mengadakan rapat kerja analisa pengembangan budidaya ayam petelur dan pengembangan ketahan pangan, menindak lanjuti studi banding ketahanan pangan dengan ternak ayam petelur, di kantor Desa Plosorejo, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora.
Kepala Desa Plosorejo, Musleh mengatakan, Pemerintah Desa (Pemdes) bersama Bumdes Margo Mulyo dan warga telah melakukan studi banding ternak ayam petelur di Jogjakarta, Jogja memiliki sumber daya alam yang mendukung peternakan ayam petelur, seperti iklim yang stabil dan ketersediaan pakan alami. Selain itu, masyarakat Jogja telah memiliki tradisi kuat dalam beternak, sehingga potensi pengembangan lebih mudah dilakukan.
“Permintaan telur ayam yang tinggi di pasar lokal dan nasional membuka peluang besar bagi peternak untuk meningkatkan produksi. Dengan penerapan sistem manajemen kandang yang lebih modern, produktivitas telur dapat ditingkatkan secara signifikan,” ujarnya, Selasa (25/2/2025)
Lanjutnya, ada dua sistem kandang yang umum digunakan, sistem tradisional (diliarkan) dan sistem modern (baterai atau kotak). Menurut Profesor Ali, pakar peternakan yang hadir dalam pelatihan, sistem diliarkan lebih efektif untuk meningkatkan produktivitas telur.
“Ayam petelur memiliki insting alami untuk bergerak bebas, seperti melangkring, mencakar, dan berkokok. Sistem diliarkan memungkinkan ayam untuk mengekspresikan insting alaminya, sehingga menghasilkan telur dengan kualitas lebih baik,” jelas
Lebih lanjut, dengan fokus pada pengembangan ayam petelur, memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu sentra produksi telur terkemuka di Indonesia. Melalui analisis dan penerapan solusi yang tepat, diharapkan sektor peternakan di Jogja dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian.
“Kami berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan peternakan khususnya ayam petelur, sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” terangnya.
Sementara itu, Direktur Bumdes Margo Mulyo, Nur Taufik mengatakan, untuk program ketahanan pangan dan studi banding yang dilaksanakan di Yogyakarta bertujuan untuk mempelajari best practices dalam pengelolaan peternakan dan ketahanan pangan, memberikan wawasan baru tentang sistem kandang modern dan manajemen peternakan yang efektif.
“Kami telah melihat langsung bagaimana peternakan di Yogyakarta dikelola dengan sistem kandang yang efisien, baik menggunakan lahan terbuka maupun sistem baterai. Ini menjadi inspirasi bagi kami untuk mengembangkan peternakan di Desa,” ujarnya.
Taufik menambahkan, salah satu poin penting yang dibahas dalam pertemuan ini adalah rencana penggunaan dana sebesar Rp160 juta yang dialokasikan untuk program ketahanan pangan.
“Dana ini dapat digunakan secara optimal untuk membangun infrastruktur peternakan yang mendukung peningkatan produksi pangan lokal,” pintanya
Lanjutnya, terdapat dua opsi yang dipertimbangkan untuk penggunaan dana tersebut, opsi pertama adalah membangun kandang di lahan terbuka, yang memungkinkan hewan ternak bergerak lebih bebas dan mengekspresikan insting alaminya. Sistem ini dinilai lebih ramah lingkungan dan dapat meningkatkan kualitas produk ternak.
Opsi kedua adalah menggunakan sistem kandang baterai, yang lebih praktis dalam hal pengelolaan kebersihan dan kesehatan hewan ternak. Sistem ini juga memungkinkan pengontrolan yang lebih ketat terhadap produktivitas ternak.
“Kami mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mempertimbangkan opsi terbaik dalam penggunaan dana ini. Tujuannya adalah agar program ketahanan pangan ini dapat memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat,” terangnya.
Partisipasi masyarakat sangat penting untuk memastikan keberlanjutan program ketahanan pangan ini, dengan komitmen bersama dari pemerintah, Badan Pengusaha Desa, dan masyarakat, diharapkan dapat menjadi contoh sukses dalam pengembangan ketahanan pangan yang berkelanjutan.*Red